Selamat atas terpilihnya Prof. DR. H Rully Indrawan menjadi Rektor baru IKOPIN periode 2007-2012 semoga dengan kepemimpinan anda bisa membawa warna baru bagi perkembangan IKOPIN dan juga dunia perkoperasian di Indonesia.
Tantangan berat sudah anda pilih saat anda terlibat dalam pertarungan kandidat rektor Ikopin, kini kami nantikan implementasi dari janji-janji, program dan entah apapun namanya yg anda klaim akan mampu membawa IKOPIN ke arah perbaikan...
Sekali lagi selamat... Kami segenap Alumni IKOPIN akan siap membantu program-program yg bisa direalisasikan, namun dengan catatan, bahwa kami juga tidak segan-segan 'membantah' pada hal-hal yg mungkin bisa berimbas negatif.
Viva Ikopin & Perkoperasian Indonesia
Wednesday, September 26, 2007
Monday, September 24, 2007
Pengaruh Qur'an Terhadap Organ Tubuh
"Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,
dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat" ( Al A'raaf : 204 )
Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta'ala berkata : "Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat al-Fatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zam-zam dan membacakan padanya surat al-Fatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapatkan kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahukan kepada banyak orang yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat". Zaadul Ma'aad (IV/178) dan al-Jawabul Kaafi (hal. 21).
Ada menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur'an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur'an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur'an tersebut kepada manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.
Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanya an ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur'an dalam pengulangan- pengulangan "Akbar" di kota Panama wilayah Florida. Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan.
Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an.
Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:
1. Muslimin yang bisa berbahasa Arab.
2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab
3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.
Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.
Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur'an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.
Dan benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak Al-Qur'an yang kentara pada penurunan tekanan syaraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah suara beberapa ayat Al-Qur'an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal Ayat Al-Qur'an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Qur'an dalam Bahasa Arabnya.
Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata "Akbar" untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Qur'an terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Qur'an, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Qur'an semisal suara atau lirik bacaan Al-Qur'an atau karena pengetahun responden bahwasannya yang diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.
Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa "Kata-kata dalam Al-Qur'an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur'an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.
Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal: (i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan (ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi. Subsekuen:
1. Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.
2. Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.
3. Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.
Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Dan untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan.
Adapun monitoring volume darah yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan. Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitoryang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung. Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.
Metode dan Keadaan yang digunakan: Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.
Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur'an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur'an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur'an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur'an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an.
Dan ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti Al-Qur'an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Qur'an dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan tujuannya adalah utuk mengetahui apakah bacaan Al-Qur'an bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.
Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat Al-Qur'an kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).
Dan sungguh telah kelihatan dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasannya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan ketegangan apapun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur'an dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Qur'an terhadap tubuh.
Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur'an, kemudian bacaan bahasa Arab, kemudian Al-Qur'an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.
Dan para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Qur'an dan bukan Al-Qur'an, akan tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur'an dan mana yang bukan.
Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.
Dan petunjuk yang sudah dimonitor dan di catat selama percobaan ini mengadung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Dan sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer. Dan sebab kami mengutamakan metode ini untuk memonitor adalah karena perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel..
Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan lainnya mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot. Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden tersebut ketika duduk. Hasil Penelitian
Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur'an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur'an.
Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur'an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur'an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.
Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur'an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.
Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya.
Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegang an saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.
Juga,
hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya.
Sumber : harun yahya
"Katakanlah, al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman". (QS. Fushshilat : 44).
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman". (QS. Al-Israa': 82).
"Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". (QS. Yunus : 57).
Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,
dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )
KEUTAMAAN SURAT AL MU'AWWIZAATAIN ( Surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas )
Dari 'Uqbah bin 'Amir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
Adakah kau lihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini dan
selainnya tidak dapat dilihat sepertinya?, dialah: Qul a'udzu
birabbil falaq' dan 'Qul a'udzu birabbin-naas. "
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. apabila akan berangkat
tidur tiap-tiap malam beliau mengumpulkan kedua telapak
tangannya kemudian meniupkannya seraya membaca surat Al Ikhlash,
Al Falaq dan An-Naas. Kemudian beliau mengusapkannya ke seluruh
tubuhnya (sebatas yang bisa) dimulai dari kepala lalu muka
kemudian bagian depan dari badan. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
dikutip dari situs http://perodua- baru.tripod. com/id14. html
dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat" ( Al A'raaf : 204 )
Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta'ala berkata : "Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat al-Fatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zam-zam dan membacakan padanya surat al-Fatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapatkan kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahukan kepada banyak orang yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat". Zaadul Ma'aad (IV/178) dan al-Jawabul Kaafi (hal. 21).
Ada menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur'an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur'an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur'an tersebut kepada manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.
Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanya an ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur'an dalam pengulangan- pengulangan "Akbar" di kota Panama wilayah Florida. Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan.
Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an.
Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:
1. Muslimin yang bisa berbahasa Arab.
2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab
3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.
Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.
Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur'an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.
Dan benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak Al-Qur'an yang kentara pada penurunan tekanan syaraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah suara beberapa ayat Al-Qur'an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal Ayat Al-Qur'an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Qur'an dalam Bahasa Arabnya.
Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata "Akbar" untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Qur'an terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Qur'an, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Qur'an semisal suara atau lirik bacaan Al-Qur'an atau karena pengetahun responden bahwasannya yang diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.
Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa "Kata-kata dalam Al-Qur'an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur'an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.
Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal: (i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan (ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi. Subsekuen:
1. Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.
2. Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.
3. Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.
Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Dan untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan.
Adapun monitoring volume darah yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan. Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitoryang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung. Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.
Metode dan Keadaan yang digunakan: Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.
Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur'an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur'an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur'an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur'an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an.
Dan ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti Al-Qur'an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Qur'an dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur'an. Dan tujuannya adalah utuk mengetahui apakah bacaan Al-Qur'an bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.
Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat Al-Qur'an kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).
Dan sungguh telah kelihatan dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasannya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan ketegangan apapun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur'an dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Qur'an terhadap tubuh.
Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur'an, kemudian bacaan bahasa Arab, kemudian Al-Qur'an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.
Dan para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Qur'an dan bukan Al-Qur'an, akan tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur'an dan mana yang bukan.
Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.
Dan petunjuk yang sudah dimonitor dan di catat selama percobaan ini mengadung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Dan sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer. Dan sebab kami mengutamakan metode ini untuk memonitor adalah karena perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel..
Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan lainnya mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot. Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden tersebut ketika duduk. Hasil Penelitian
Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur'an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur'an.
Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur'an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur'an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.
Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur'an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.
Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya.
Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegang an saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.
Juga,
hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya.
Sumber : harun yahya
"Katakanlah, al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman". (QS. Fushshilat : 44).
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman". (QS. Al-Israa': 82).
"Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". (QS. Yunus : 57).
Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,
dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )
KEUTAMAAN SURAT AL MU'AWWIZAATAIN ( Surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas )
Dari 'Uqbah bin 'Amir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
Adakah kau lihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini dan
selainnya tidak dapat dilihat sepertinya?, dialah: Qul a'udzu
birabbil falaq' dan 'Qul a'udzu birabbin-naas. "
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. apabila akan berangkat
tidur tiap-tiap malam beliau mengumpulkan kedua telapak
tangannya kemudian meniupkannya seraya membaca surat Al Ikhlash,
Al Falaq dan An-Naas. Kemudian beliau mengusapkannya ke seluruh
tubuhnya (sebatas yang bisa) dimulai dari kepala lalu muka
kemudian bagian depan dari badan. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
dikutip dari situs http://perodua- baru.tripod. com/id14. html
Friday, September 21, 2007
akankah mimpi itu menjadi nyata?
PDCA... semua yg (pernah) belajar mengenai manajemen pasti tahu apa itu PDCA. PDCA seringkali dilakukan diperusahaan-perusahaan yg sudah cukup besar dan (relatif) baik dari sisi manajerial... tapi sudahkah PDCA itu diterapkan oleh insan-insan yg berkecimpung di manajemen dalam implementasi kehidupan sehari-hari??
Rasanya lebih mudah membuat PDCA utk sebuah pekerjaan, melakukan PLAN (perencanaan) kemudian DO (melakukan) lalu CHECK (implementasi dari perencanaan) dan ACTION (improve) dari hasil implementasi...
Dalam kehidupan sehari-hari hal ini lebih mudah untuk di ucapkan, ditulis... namun utk dilakukan? ... mmm....
butuh kesabaran (yg super), butuh ketekunan dan ketelitian (yg teramat sangat) dan butuh 'rasa'...
memang penonton selalu lebih tahu mana yg terbaik dalam sebuah pertandingan, tapi ternyata begitu menjadi pemain??? menendang bola pun belum tentu lurus dan kencang..
lucu... ya teramat lucu memang...
tapi sekali lagi... hidup ini teramat singkat.... hanya ada dua pilihan...
TERUS atau BERHENTI...
Rasanya lebih mudah membuat PDCA utk sebuah pekerjaan, melakukan PLAN (perencanaan) kemudian DO (melakukan) lalu CHECK (implementasi dari perencanaan) dan ACTION (improve) dari hasil implementasi...
Dalam kehidupan sehari-hari hal ini lebih mudah untuk di ucapkan, ditulis... namun utk dilakukan? ... mmm....
butuh kesabaran (yg super), butuh ketekunan dan ketelitian (yg teramat sangat) dan butuh 'rasa'...
memang penonton selalu lebih tahu mana yg terbaik dalam sebuah pertandingan, tapi ternyata begitu menjadi pemain??? menendang bola pun belum tentu lurus dan kencang..
lucu... ya teramat lucu memang...
tapi sekali lagi... hidup ini teramat singkat.... hanya ada dua pilihan...
TERUS atau BERHENTI...
Thursday, September 20, 2007
live is so short
hmm... hidup ini memang singkat... semua selalu berputar kembali ke titik awal (walaupun) seringkali tidak disadari bahwa kita pernah berada di titik tersebut.
terlalu sia-sia jika hidup ini dilewati hanya dengan keluh kesah, amarah dan juga sumpah serapah yang tidak akan pernah ada habis-habisnya.
jadi nikmati saja sambil terus memperbaiki keadaan agar ketika kita kembali ke titik awal, kita akan lebih lebih siap menghadapi titik selanjutnya (yg padahal pernah kita lewati juga)...
so strange... but the show must go on
terlalu sia-sia jika hidup ini dilewati hanya dengan keluh kesah, amarah dan juga sumpah serapah yang tidak akan pernah ada habis-habisnya.
jadi nikmati saja sambil terus memperbaiki keadaan agar ketika kita kembali ke titik awal, kita akan lebih lebih siap menghadapi titik selanjutnya (yg padahal pernah kita lewati juga)...
so strange... but the show must go on
Thursday, May 12, 2005
Cinta Hakiki
Cinta Hakiki
Cinta adalah cinta adalah cinta adalah cinta.
Itulah cinta hakiki yang terlalu sederhana jika dideskripsikan atau didefinisikan dengan bahasa manusia.
Sebab ia adalah hujan yang membasahi bumi, menumbuhkan bebijian, memekarkan bebungaan, meranumkan bebuahan.
Sebab ia adalah matahari yang menyinari bumi dan mengalirkan energinya hingga dunia mempertontonkan aneka gerak dinamis para penghuninya. Sebab ia adalah oksigen yang memenuhi paru-paru kita, ia adalah akal yang membuat kita berbeda dengan makhluk lain, ia adalah nurani yang membuat kita beradab………………
Banyak orang mencari cinta, namun hanya sedikit yang mampu menggapai kehakikian. Cinta hakiki hanya dapat diselami oleh perindu surga. Ia tak mungkin dimiliki dan dipahami oleh mereka yang merindu dunia. Siapakah dia penyelam rindu sejati ?
Ia adalah Rasulullah yang cintanya kepada Allah membuat ia rela bersandingkan bulan dan matahari demi kejayaan dakwah.
Ia yang rela tidur beralaskan pelepah kurma kasar, menggantungkan batu di perut untuk menahan lapar dan berpeluh mengangkat karung gandum dengan bahunya sendiri demi menjadikan dirinya berderang dunia bagi sekalian makhluk.
Dialah satu-satunya sosok manusia yang masih tetap lekat ingatan pada nasib umatnya meski urat-urat lehernya tengah teregang menahankan dahsyatnya sakaratul maut. Ingatkah kita padanya ?
Rindukah kita padanya ?
Cintakah kita padanya………?
Ia adalah Usman bin Affan yang kekayaannya adalah berkah bagi kaum dhuafa. Ia yang merelakan 1000 kafilah unta penuh berisi bahan makanan dibagikan pada segenap penduduk Madinah yang membutuhkan demi memilih berniaga dengan balasan cinta hakiki.
Ia adalah Abdullah bin Abbas yang muda usia namun luas ilmunya.
Ia adalah Nusaibah yang keperempuannya tidak menjadi penghalang untuk mengangkat pedang melindungi Rasulullah dalam perang Uhud.
Ia adalah si gembala kecil yang membuat Umar menangis karena pertanyaannya : Fainallah………, saat diminta memerah susu kambing tanpa izin pemiliknya.
Ia adalah Zainab binti Jahsy yang ketrampilannya berusaha membuat ia banyak bersedekah. Dimanakah kini bisa kita temui sosok perindu surga penyelam cinta hakiki ?
Sujud-sujud panjang yang kita lakukan di malam-malam hari semoga mampu hadirkan cinta hakiki di hati, menjelmakan diri menjadi pribadi baru yang lebih ikhlas, lebih sabar, lebih bersahaja, lebih bekerja keras, lebih bisa menghargai diri sendiri dan orang lain, lebih mudah empati, lebih bertanggungjawab, lebih bersyukur, lebih cerdas, dan tentu saja lebih ingat kepada Allah dan Rasul-Nya amat sangat mencintai kita………
Sumber : Ummi edisi Desember 2004
Cinta adalah cinta adalah cinta adalah cinta.
Itulah cinta hakiki yang terlalu sederhana jika dideskripsikan atau didefinisikan dengan bahasa manusia.
Sebab ia adalah hujan yang membasahi bumi, menumbuhkan bebijian, memekarkan bebungaan, meranumkan bebuahan.
Sebab ia adalah matahari yang menyinari bumi dan mengalirkan energinya hingga dunia mempertontonkan aneka gerak dinamis para penghuninya. Sebab ia adalah oksigen yang memenuhi paru-paru kita, ia adalah akal yang membuat kita berbeda dengan makhluk lain, ia adalah nurani yang membuat kita beradab………………
Banyak orang mencari cinta, namun hanya sedikit yang mampu menggapai kehakikian. Cinta hakiki hanya dapat diselami oleh perindu surga. Ia tak mungkin dimiliki dan dipahami oleh mereka yang merindu dunia. Siapakah dia penyelam rindu sejati ?
Ia adalah Rasulullah yang cintanya kepada Allah membuat ia rela bersandingkan bulan dan matahari demi kejayaan dakwah.
Ia yang rela tidur beralaskan pelepah kurma kasar, menggantungkan batu di perut untuk menahan lapar dan berpeluh mengangkat karung gandum dengan bahunya sendiri demi menjadikan dirinya berderang dunia bagi sekalian makhluk.
Dialah satu-satunya sosok manusia yang masih tetap lekat ingatan pada nasib umatnya meski urat-urat lehernya tengah teregang menahankan dahsyatnya sakaratul maut. Ingatkah kita padanya ?
Rindukah kita padanya ?
Cintakah kita padanya………?
Ia adalah Usman bin Affan yang kekayaannya adalah berkah bagi kaum dhuafa. Ia yang merelakan 1000 kafilah unta penuh berisi bahan makanan dibagikan pada segenap penduduk Madinah yang membutuhkan demi memilih berniaga dengan balasan cinta hakiki.
Ia adalah Abdullah bin Abbas yang muda usia namun luas ilmunya.
Ia adalah Nusaibah yang keperempuannya tidak menjadi penghalang untuk mengangkat pedang melindungi Rasulullah dalam perang Uhud.
Ia adalah si gembala kecil yang membuat Umar menangis karena pertanyaannya : Fainallah………, saat diminta memerah susu kambing tanpa izin pemiliknya.
Ia adalah Zainab binti Jahsy yang ketrampilannya berusaha membuat ia banyak bersedekah. Dimanakah kini bisa kita temui sosok perindu surga penyelam cinta hakiki ?
Sujud-sujud panjang yang kita lakukan di malam-malam hari semoga mampu hadirkan cinta hakiki di hati, menjelmakan diri menjadi pribadi baru yang lebih ikhlas, lebih sabar, lebih bersahaja, lebih bekerja keras, lebih bisa menghargai diri sendiri dan orang lain, lebih mudah empati, lebih bertanggungjawab, lebih bersyukur, lebih cerdas, dan tentu saja lebih ingat kepada Allah dan Rasul-Nya amat sangat mencintai kita………
Sumber : Ummi edisi Desember 2004
Monday, April 11, 2005
GROW YOUR VALUE
Di sebuah toko perhiasan, selintas terlihat percakapan yang menarik antara seorang pembeli dan penjual.
Mereka sedang terlibat tawar menawar sebuah kalung mutiara yang cukupindah, dan kelihatannya termasuk salah satu koleksi unggulan dari toko tersebut.
Setelah tawar menawar beberapa saat, si pembeli akhirnya memutuskan untuk keluar dari toko itu, karena dianggapnya harga barang tersebut mahal.
Selang beberapa menit kemudian, ada pembeli lain yang masuk, dan kemudian mengamati kalung mutiara yang tadi. Dia kemudian mencoba sejenak di lehernya, dan setelah dirasa cocok, tanpa tawar menawar langsung dibayarnya barang tersebut dan keluar.
Apa yang menarik dari kedua kejadian tadi ?
Barang yang sama, tapi dipersepsikan berbeda oleh dua orang.
Tentu, yang membedakan persepsi keduanya adalah uang yang dimiliki oleh masing-2 orang.
Semakin banyak uang yang anda miliki, tentu semakin murah harga barang tersebut dimata anda.
Dari sisi orang pertama.
Apa yang kira-2 dilakukan oleh orang tadi setelah gagal menawar barang tersebut ?
Bila dia memang serius ingin membeli barang tersebut, mungkin dia akan mulai masuk ke toko-2 lain, mencari-2 yang lebih murah.
Bila setelah`berjuang' keliling mall dan tidak juga menemukan barang yang harganya sesuai dengan isi kantongnya, mungkin dia mencoba mencari di tempat lain, atau mungkin juga mengurungkan niat untuk membelinya....
Fokus dari orang pertama ini adalah lebih kepada jumlah uang yang dia miliki, dibanding dengan nilai dari barang tersebut bagi dirinya.
Jika merujuk kepada teori RichDad-nya Kiyosaki, dikatakan disana bahwa orang rata-2 melihat dari seberapa besar pendapatannya, lalu menekan pengeluarannya, sedang orang sukses melihat dari sisi pengeluarannya, lalu meningkatkan pendapatannya. Dalam lingkup kehidupan, bukankah sebagian besar dari kita juga memiliki Sikap seperti orang pertama itu ?
Saat kita menghadapi masalah, kita selalu mengeluh mengapa kita yang`kecil' ini mendapat masalah seberat itu.
James Gwee dalam Ultimate Power Motivation di Senayan kemarin mengatakan,
BAHWA YANG MENJADI POKOK PERSOALAN BUKAN BESAR KECILNYA MASALAH, TAPI BESAR KECILNYA VALUE ANDA.
Begitu value anda ditingkatkan, maka masalah tersebut akan menjadi kecil dimata, bukankah anda saat ini sudah sangat mahir makan dengan sendok dan garpu, suatu hal yang menjadi masalah besar saat anda berusia dua tahun? Dan bukankah anda saat ini sudah sangat mahir bermain internet, sehingga anda bisa ikut milis dan membaca newsletter ini, suatu hal yang mungkin sangat asing dan sukar beberapa tahun yang lalu ?
Sayangnya, di dunia di mana kita tinggal ini, tidak semua orang mau berusaha untuk meningkatkan value di dalam diri mereka.
Daripada berusaha capek-2 meningkatkan value, mereka lebih memilih untuk `menetapkan standard' mereka sendiri terhadap dunia ini.
Sebagai contoh, ada dari mereka yang mungkin berkata, "Karena kemampuan bahasa Inggris saya jelek, saya jadi tidak tertarik membaca buku bahasa Inggris. Kalau ada terjemahannya, mungkin saya mau baca". Standard bahasa Inggris mereka sudah dipatok di nilai tertentu, dan daripada meningkatkan value standardnya, mereka lebih memilih buku terjemahan yang `lebih sesuai' dengan standard mereka.
Di sisi lain, ada juga mereka yang berusaha `meningkatkan value' standard mereka dengan memaksa diri membaca buku bahasa Inggris sambil membuka-2 kamus.
Tidak ada yang salah dengan pilihan anda, apakah mau mematok standard atau meningkatkan standard value anda. Ini semua hanyalah pilihan anda pribadi dalam hidup.
Hanya saja, apabila anda mematok standard anda di satu titik tertentu, jangan mengeluh terhadap kerasnya kehidupan dan masalah yang datang kepada anda.
Ingat, bukan besar kecilnya masalah yang menjadi pokok dalam kehidupan ini, tapi besar kecilnya value anda.
Dan ada satu prinsip yang luar biasa yang dikatakan oleh Andrie Wongso tentang hal ini,
"KALAU ANDA KERAS TERHADAP DIRI ANDA, MAKA KEHIDUPAN AKAN LUNAK KEPADA ANDA. SEBALIKNYA APABILA ANDA LUNAK KEPADA DIRI ANDA, MAKA KEHIDUPAN AKAN KERAS KEPADA ANDA".
Jadi, lakukan pilihan yang terbaik, dan dapatkan hasilnya.
Sukses untuk anda !
Mereka sedang terlibat tawar menawar sebuah kalung mutiara yang cukupindah, dan kelihatannya termasuk salah satu koleksi unggulan dari toko tersebut.
Setelah tawar menawar beberapa saat, si pembeli akhirnya memutuskan untuk keluar dari toko itu, karena dianggapnya harga barang tersebut mahal.
Selang beberapa menit kemudian, ada pembeli lain yang masuk, dan kemudian mengamati kalung mutiara yang tadi. Dia kemudian mencoba sejenak di lehernya, dan setelah dirasa cocok, tanpa tawar menawar langsung dibayarnya barang tersebut dan keluar.
Apa yang menarik dari kedua kejadian tadi ?
Barang yang sama, tapi dipersepsikan berbeda oleh dua orang.
Tentu, yang membedakan persepsi keduanya adalah uang yang dimiliki oleh masing-2 orang.
Semakin banyak uang yang anda miliki, tentu semakin murah harga barang tersebut dimata anda.
Dari sisi orang pertama.
Apa yang kira-2 dilakukan oleh orang tadi setelah gagal menawar barang tersebut ?
Bila dia memang serius ingin membeli barang tersebut, mungkin dia akan mulai masuk ke toko-2 lain, mencari-2 yang lebih murah.
Bila setelah`berjuang' keliling mall dan tidak juga menemukan barang yang harganya sesuai dengan isi kantongnya, mungkin dia mencoba mencari di tempat lain, atau mungkin juga mengurungkan niat untuk membelinya....
Fokus dari orang pertama ini adalah lebih kepada jumlah uang yang dia miliki, dibanding dengan nilai dari barang tersebut bagi dirinya.
Jika merujuk kepada teori RichDad-nya Kiyosaki, dikatakan disana bahwa orang rata-2 melihat dari seberapa besar pendapatannya, lalu menekan pengeluarannya, sedang orang sukses melihat dari sisi pengeluarannya, lalu meningkatkan pendapatannya. Dalam lingkup kehidupan, bukankah sebagian besar dari kita juga memiliki Sikap seperti orang pertama itu ?
Saat kita menghadapi masalah, kita selalu mengeluh mengapa kita yang`kecil' ini mendapat masalah seberat itu.
James Gwee dalam Ultimate Power Motivation di Senayan kemarin mengatakan,
BAHWA YANG MENJADI POKOK PERSOALAN BUKAN BESAR KECILNYA MASALAH, TAPI BESAR KECILNYA VALUE ANDA.
Begitu value anda ditingkatkan, maka masalah tersebut akan menjadi kecil dimata, bukankah anda saat ini sudah sangat mahir makan dengan sendok dan garpu, suatu hal yang menjadi masalah besar saat anda berusia dua tahun? Dan bukankah anda saat ini sudah sangat mahir bermain internet, sehingga anda bisa ikut milis dan membaca newsletter ini, suatu hal yang mungkin sangat asing dan sukar beberapa tahun yang lalu ?
Sayangnya, di dunia di mana kita tinggal ini, tidak semua orang mau berusaha untuk meningkatkan value di dalam diri mereka.
Daripada berusaha capek-2 meningkatkan value, mereka lebih memilih untuk `menetapkan standard' mereka sendiri terhadap dunia ini.
Sebagai contoh, ada dari mereka yang mungkin berkata, "Karena kemampuan bahasa Inggris saya jelek, saya jadi tidak tertarik membaca buku bahasa Inggris. Kalau ada terjemahannya, mungkin saya mau baca". Standard bahasa Inggris mereka sudah dipatok di nilai tertentu, dan daripada meningkatkan value standardnya, mereka lebih memilih buku terjemahan yang `lebih sesuai' dengan standard mereka.
Di sisi lain, ada juga mereka yang berusaha `meningkatkan value' standard mereka dengan memaksa diri membaca buku bahasa Inggris sambil membuka-2 kamus.
Tidak ada yang salah dengan pilihan anda, apakah mau mematok standard atau meningkatkan standard value anda. Ini semua hanyalah pilihan anda pribadi dalam hidup.
Hanya saja, apabila anda mematok standard anda di satu titik tertentu, jangan mengeluh terhadap kerasnya kehidupan dan masalah yang datang kepada anda.
Ingat, bukan besar kecilnya masalah yang menjadi pokok dalam kehidupan ini, tapi besar kecilnya value anda.
Dan ada satu prinsip yang luar biasa yang dikatakan oleh Andrie Wongso tentang hal ini,
"KALAU ANDA KERAS TERHADAP DIRI ANDA, MAKA KEHIDUPAN AKAN LUNAK KEPADA ANDA. SEBALIKNYA APABILA ANDA LUNAK KEPADA DIRI ANDA, MAKA KEHIDUPAN AKAN KERAS KEPADA ANDA".
Jadi, lakukan pilihan yang terbaik, dan dapatkan hasilnya.
Sukses untuk anda !
Thursday, March 31, 2005
PBA: Perkawinan Bodoh Amat
Berikut ini kutipan wawancara Ulil-Abshar Abdalla dengan Ahmad Nurcholish, aktivis YISC (Youth Islamic Student Club) Al-Azhar, tentang perkawinannyadengan seorang penganut Kong Hu Chu bernama Ang Mei Yong, di harian Jawa Pos, baru-baru ini.
Mas Ahmad, Anda memutuskan untuk menikah dengan perempuan Konghucu. Apakah Anda yakin pernikahan Anda sah menurut agama Anda?
Ahmad Nurcholish : Ya, pertama-tama, saya berangkat dari asumsi bahwa pernikahan saya sah. Secara teologis, paling tidak menurut apa yang saya pelajari, pernikahan beda agama (PBA) antara laki-laki muslim dan perempuan non-Muslimsah menurut Islam. Yang kedua, saya ingin menguji kebenaran asumsi yang berkembang di masyarakat, yang mengatakan bahwa PBA akan memunculkan banyak konflik atau ditengarai rentan perceraian. Jadi, boleh dikatakan bahwa pernikahan ini merupakan sebuah "eksperimentasi" yang ingin saya buktikan sendiri.
PBA, sebuah singkatan yang mungkin bisa juga menjadi Perkawinan Bodoh Amat.
Bagaimana tidak, alasan yang disampaikan Sang Mempelai Pria adalah melakukan eksperimen alias coba-coba ingin membuktikan apakah kawin beda agama itu berakhir dengan tidak bahagia atau sebaliknya. Kebodohan ini tentunya membuat mereka yang serius dengan institusi perkawinan menjadi sedih atau mungkin juga tertawa terbahak-bahak.
Logikanya di mana?
Pada 1994, Nuryamin Aini, menulis tesis untuk meraih gelar MA di Flinders University, Australia, yang meneliti fenomena PBA ini. Penelitian dilakukan khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta, karena dianggapnya sebagai wilayah melting pot tempat peleburan budaya. Ia mengaku, harus meng-up-date data yang digunakan, karena terjadi fluktuasi.
Pada 1980, paling tidak, terdapat 15 kasus yang menikah beda agama di antara 1.000 pernikahan yang tercatat. Pada 1990, kasusnya naik menjadi 18 kasus dan justru trennya menurun menjadi 12 kasus saja pada 2000. Tren penurunan ini dalam bahasa statistiknya disebut U terbalik.
Pada1980 rendah (15/1.000), lalu naik pada 1990 (19/1.000), kemudian turun lagi pada 2000 (12/1.000). Nampaknya ide campur aduk Ulil dan para pendahulunya dalam memahami kebenaran ternyata semakin tidak populer di kalangan ummat Islam. Boleh jadi memang sengaja dipopulerkan atau dipaksakan untuk menjadi populer, oleh mereka yang memang ingin Islam menjadi agama yang remang-remang.
Kebenaran agama ini dicampur aduk dan akhirnya tampil dalam adonan warna-warni keyakinan dan praktik. Maka PBA sebenarnya adalah salah satu praktek sensasional untuk mempopulerkan adonan hak-batil dalam sebuah institusi perkawinan yang tidak sah secara syar'i.
Kebenaran sebuah praktek keagamaan tidak akan pernah disimpulkan melalui hasil percobaan di lapangan. Perkawinan wanita Muslimah dengan pria non-Muslim yang nampak bahagia tidaklah menjadi ukuran pembenaran hukum agama. Jika ini yang menjadi standar maka suatu ketika kumpul kebo atau bahkan mungkin hubungan "hewan" antara anak-anak manusia, di mana saja dan kapan saja bisa menjadi justified karena ternyata telah diterima secara sosial atau dalam bahasa Ulil telah diterima sebagai "kepatutan umum" dan mungkin dipandang secara lahir membahagiakan pasangan tersebut.
Akankah diterima secara sya'ri hubungan sesama jenis hanya karena telah diterima secara sosial? Seorang putri calon presiden AS dari Partai Republikan ternyata mengaku "Lesbian". Ayahnya mengatakan, kalau memang itu kebahagian anak saya, saya pun ikut bahagia. Kebenaran agama Islam bertolak dari apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan.
Untuk itu, perkawinan antara Muslim dengan wanita non-Ahli Kitab (sebuah kata yang disputable) atau wanita Muslimah dengan pria non-Muslim diharamkan. Itu logika syariat, dan itulah pula standar sah tidaknya sebuah pernikahan.
Pernyataan Sdr. Ahmad Nurchalis sangat gamang, karena mengakui bahwa yang dilarang dinikahi dalam ajaran Islam adalah wanita musyrik. Kalau seorang penganut agama Kong Hu Chu tidak musyrik, siapa lagi yang dikategorikan musyrik dalam Al Qur'an? Pernikahan dalam Islam bukan semata jalinan sosial. Yang lebih penting adalah bahwa pernikahan itu adalah proses suci karena menghalalkan sesuatu yang sebelumnya diharamkan. Namun lebih penting dari semua itu adalah pernikahan merupakan fondasi generasi depan umat. Jika logika Islam seperti ini yang hidup, tentu proses yang akan ditempuh tidak segamang yang ditempuh oleh Ahmad Nurchalis itu.
Tapi kalau tujuannya sekedar untuk meniktmati hubungan suami isteri dan melahirkan anak yang tidak tahu juntrungan masa depan akidahnya, boleh jadi perkawinan itu menjadi masuk akal.
Sayang, seorang Ulil memang memahami penekanan agama pada hadits ini "Wanita dinikahi (mungkin) karena empat motif : kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Tapi dahulukan agama karena itu akan menguntungkan" sebagai agama apa saja. Artinya, Ulil bisa dianggap orang beragama, mungkin Yahudi, Kristen, Kong Hu Chu, Budha, Hindu, dst.
Maka jangan heran, jika agama bagi Ulil tidak punya batasan. Nampaknya, Ulil dan koleganya memang selalu main-main dan cenderung menarik kesimpulan benar salahnya sebuah agama melalui pengalaman manusia (eksperimen) di lapangan. Untuk itu, tidak menutup kemungkinan jika suatu ketika Ulil berpendapat bahwa zina itu tidak lagi haram karena praktek di lapangan membuktikan ternyata zina itu membahagiakan pelacur, menjadi sumber kehidupan, memberantas kemiskinan, serta efek sampingannya, penyakit HIV dan AIDS, telah ditemukan solusinya, dan yang lebih penting telah menjadi "kepatutan umum" (public decency) Lalu di mana "nurani" dan "logika" mereka dalam memahami agamanya?
Mas Ahmad, Anda memutuskan untuk menikah dengan perempuan Konghucu. Apakah Anda yakin pernikahan Anda sah menurut agama Anda?
Ahmad Nurcholish : Ya, pertama-tama, saya berangkat dari asumsi bahwa pernikahan saya sah. Secara teologis, paling tidak menurut apa yang saya pelajari, pernikahan beda agama (PBA) antara laki-laki muslim dan perempuan non-Muslimsah menurut Islam. Yang kedua, saya ingin menguji kebenaran asumsi yang berkembang di masyarakat, yang mengatakan bahwa PBA akan memunculkan banyak konflik atau ditengarai rentan perceraian. Jadi, boleh dikatakan bahwa pernikahan ini merupakan sebuah "eksperimentasi" yang ingin saya buktikan sendiri.
PBA, sebuah singkatan yang mungkin bisa juga menjadi Perkawinan Bodoh Amat.
Bagaimana tidak, alasan yang disampaikan Sang Mempelai Pria adalah melakukan eksperimen alias coba-coba ingin membuktikan apakah kawin beda agama itu berakhir dengan tidak bahagia atau sebaliknya. Kebodohan ini tentunya membuat mereka yang serius dengan institusi perkawinan menjadi sedih atau mungkin juga tertawa terbahak-bahak.
Logikanya di mana?
Pada 1994, Nuryamin Aini, menulis tesis untuk meraih gelar MA di Flinders University, Australia, yang meneliti fenomena PBA ini. Penelitian dilakukan khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta, karena dianggapnya sebagai wilayah melting pot tempat peleburan budaya. Ia mengaku, harus meng-up-date data yang digunakan, karena terjadi fluktuasi.
Pada 1980, paling tidak, terdapat 15 kasus yang menikah beda agama di antara 1.000 pernikahan yang tercatat. Pada 1990, kasusnya naik menjadi 18 kasus dan justru trennya menurun menjadi 12 kasus saja pada 2000. Tren penurunan ini dalam bahasa statistiknya disebut U terbalik.
Pada1980 rendah (15/1.000), lalu naik pada 1990 (19/1.000), kemudian turun lagi pada 2000 (12/1.000). Nampaknya ide campur aduk Ulil dan para pendahulunya dalam memahami kebenaran ternyata semakin tidak populer di kalangan ummat Islam. Boleh jadi memang sengaja dipopulerkan atau dipaksakan untuk menjadi populer, oleh mereka yang memang ingin Islam menjadi agama yang remang-remang.
Kebenaran agama ini dicampur aduk dan akhirnya tampil dalam adonan warna-warni keyakinan dan praktik. Maka PBA sebenarnya adalah salah satu praktek sensasional untuk mempopulerkan adonan hak-batil dalam sebuah institusi perkawinan yang tidak sah secara syar'i.
Kebenaran sebuah praktek keagamaan tidak akan pernah disimpulkan melalui hasil percobaan di lapangan. Perkawinan wanita Muslimah dengan pria non-Muslim yang nampak bahagia tidaklah menjadi ukuran pembenaran hukum agama. Jika ini yang menjadi standar maka suatu ketika kumpul kebo atau bahkan mungkin hubungan "hewan" antara anak-anak manusia, di mana saja dan kapan saja bisa menjadi justified karena ternyata telah diterima secara sosial atau dalam bahasa Ulil telah diterima sebagai "kepatutan umum" dan mungkin dipandang secara lahir membahagiakan pasangan tersebut.
Akankah diterima secara sya'ri hubungan sesama jenis hanya karena telah diterima secara sosial? Seorang putri calon presiden AS dari Partai Republikan ternyata mengaku "Lesbian". Ayahnya mengatakan, kalau memang itu kebahagian anak saya, saya pun ikut bahagia. Kebenaran agama Islam bertolak dari apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan.
Untuk itu, perkawinan antara Muslim dengan wanita non-Ahli Kitab (sebuah kata yang disputable) atau wanita Muslimah dengan pria non-Muslim diharamkan. Itu logika syariat, dan itulah pula standar sah tidaknya sebuah pernikahan.
Pernyataan Sdr. Ahmad Nurchalis sangat gamang, karena mengakui bahwa yang dilarang dinikahi dalam ajaran Islam adalah wanita musyrik. Kalau seorang penganut agama Kong Hu Chu tidak musyrik, siapa lagi yang dikategorikan musyrik dalam Al Qur'an? Pernikahan dalam Islam bukan semata jalinan sosial. Yang lebih penting adalah bahwa pernikahan itu adalah proses suci karena menghalalkan sesuatu yang sebelumnya diharamkan. Namun lebih penting dari semua itu adalah pernikahan merupakan fondasi generasi depan umat. Jika logika Islam seperti ini yang hidup, tentu proses yang akan ditempuh tidak segamang yang ditempuh oleh Ahmad Nurchalis itu.
Tapi kalau tujuannya sekedar untuk meniktmati hubungan suami isteri dan melahirkan anak yang tidak tahu juntrungan masa depan akidahnya, boleh jadi perkawinan itu menjadi masuk akal.
Sayang, seorang Ulil memang memahami penekanan agama pada hadits ini "Wanita dinikahi (mungkin) karena empat motif : kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Tapi dahulukan agama karena itu akan menguntungkan" sebagai agama apa saja. Artinya, Ulil bisa dianggap orang beragama, mungkin Yahudi, Kristen, Kong Hu Chu, Budha, Hindu, dst.
Maka jangan heran, jika agama bagi Ulil tidak punya batasan. Nampaknya, Ulil dan koleganya memang selalu main-main dan cenderung menarik kesimpulan benar salahnya sebuah agama melalui pengalaman manusia (eksperimen) di lapangan. Untuk itu, tidak menutup kemungkinan jika suatu ketika Ulil berpendapat bahwa zina itu tidak lagi haram karena praktek di lapangan membuktikan ternyata zina itu membahagiakan pelacur, menjadi sumber kehidupan, memberantas kemiskinan, serta efek sampingannya, penyakit HIV dan AIDS, telah ditemukan solusinya, dan yang lebih penting telah menjadi "kepatutan umum" (public decency) Lalu di mana "nurani" dan "logika" mereka dalam memahami agamanya?
Tuesday, March 29, 2005
SIAPAKAH ?
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah.............. dan bersegeralah!
Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berucap "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Kemudian berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar...............
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah....... Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki...........
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.Maka hargailah waktumu dan bersegeralah..............
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda.............................
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan dimana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang. Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu...............
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia............
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya..............
Siapakah org yg PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan atau membuang email ini begitu saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain. Maka sampaikanlah kepada yang lain sedikit berita gembira ini selagi sempat, karena tiada ruginya
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah.............. dan bersegeralah!
Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berucap "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Kemudian berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar...............
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah....... Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki...........
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.Maka hargailah waktumu dan bersegeralah..............
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda.............................
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan dimana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang. Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu...............
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia............
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya..............
Siapakah org yg PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan atau membuang email ini begitu saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain. Maka sampaikanlah kepada yang lain sedikit berita gembira ini selagi sempat, karena tiada ruginya
Thursday, March 24, 2005
Putus Asa???
"Jangan putus asa jika otak tumpul dan kurang cerdas. Kadang - kadang seorang yang tumpul otaknya tetapi tidak putus asa lebih maju daripada seorang yang cerdas tetapi pemalas".
-Hamka-
-Hamka-
Monday, March 21, 2005
MANAGEMENT STRESS
Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut. -Stephen Covey-
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya : "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.
Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa.
Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.
Start the day with smile and have a good day........
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya : "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.
Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa.
Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.
Start the day with smile and have a good day........
Tuesday, March 15, 2005
Jadi Leader Setelah Kuat di Ethical
Betadine Antiseptic meraih kepercayaan konsumen setelah kurang lebih 20 tahun bergerak di ethical. Ketika dilepas ke mass market, produk asal Switzerland itu langsung menguasai pasar.
Boleh jadi keberuntungan seperti yang dialami Betadine Antiseptic sulit ditemukan pada produk-produk lain. Hal itu bermula dari keputusan pemerintah yang melarang peredaran Obat Merah (cairan untuk mengobati luka) di pasaran setelah ditemukan komposisi yang membahayakan konsumen. Ada zat yang bisa menyebabkan kanker kulit. Padahal, Obat Merah hingga tahun 1990-an sudah menguasai pasar. Konsumen, tentu saja memerlukan penggantinya. Betadine Antiseptic memanfatkan kesempatan itu untuk menduduki posisi Obat Merah.
Kebetulan, produk yang lisensinya dibeli dari Dr Mundipharma AG, Switzerland itu sudah punya image kuat sebagai obat yang direkomendasi para dokter. Image itu diraih setelah 12 tahun bermain di ethical—yakni lewat dokter, rumah sakit dan klinik-klinik sebagai jalur pemasaran. “Begitu masuk ke OTC (over the counter), konsumen langsung percaya Betadine itu bagus. Jadi kami lebih mudah masuknya,” kata Roby Muljadi, Group Marketing Manager PT Mahakam Beta Farma.
Betadine mulai melakukan penetrasi ke pasar nasional tahun 1977 lewat PT Daya Muda Agung. Saat itu masih bersifat “maklon” alias membeli produk yang kemudian dikemas dan disistribusikan oleh pembelinya. Lalu, pada 1980 didirikanlah PT Mahakam Beta Farma yang menjadi subsidiari PT Daya Muda Agung. Dari sinilah kemudian Betadine diproduksi sendiri dengan tetap mengambil lisensi dari Mundipharma.
Pergerakan Betadine dari ethical bermula dari keterbatasan bujet. Maka, konsentrasinya saat itu hanya lewat dokter, rumah sakit dan klinik-klinik, yang mengandalkan tenaga medical representative. Meski begitu, penetrasinya sudah cukup kuat dan menjangkau Jawa, Medan, dan Ujung Pandang. Baru pada 1989, setelah dirasa kuat, Betadine mulai di OTC-kan. Berbarengan dengan itu, iklan pun mulai digarap di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.
Tanggapan konsumen ternyata positif. Rupanya, sebagain besar konsumen sudah tahu produk tersebut lewat komunikasi mouth to mouth ketika Betadine masih menggarap ethical. Dua tahun setelah melebarkan sayap ke OTC, keberuntungan terbesar pun datang. Sekitar tahun 1991, pemerintah mengeluarkan larangan peredaran Obat Merah. Momentum itu dipergunakan Betadine untuk berpromosi secara gencar di televisi swasta, yang saat itu baru ada dua: RCTI dan SCTV.
Hasilnya, Betadine menjadi pengganti posisi Obat Merah dan meraih seluruh pasar obat tersebut. Apalagi dalam tempo kurang dari dua tahun, distribusi Betadine sudah merambah ke warung-warung. Menurut Roby, saat itu perolehan market share Betadine langsung melonjak mencapai 40-50%. “Kami jadi market leader pada saat adanya larangan pemerintah terhadap Obat Merah. Betadine langsung meraih market share dari obat merah,” kata Roby.
Andalkan PR
Pemain obat luka sebenarnya cukup padat. Jumahnya pernah mencapai 33 brand yang bisa ditemukan di berbagai tempat. Mereka memperebutkan pasar obat luka yang mencapai Rp70 miliar per tahun. Tetapi, malangnya, sebagian tidak mampu bertahan dan kemudian dimatikan. Umumnya, para pemain tersebut berkonsentrasi memperkuat basis di daerah-daerah tertentu. Pemain yang relatif kuat antara lain Stardine, Unidine, dan Hexidine. Akan tetapi, merek-merek tersebut hanya memperebutkan 10% pangsa pasar. Sisanya, 90% sudah dikuasai Betadine yang 82% pangsanya dikontribusi dari OTC.
Meski jadi pemimpin, Betadine mengaku tidak mau jorjoran membombardir pasar dengan kegiatan komunikasi. Prinsip yang dianutnya simpel, komunikasi harus efektif. Karenanya, sekarang ini, ketika awareness Betadine sudah sangat tinggi, komunikasi lebih diarahkan kepada kegiatan public relations. Kegiatan PR itu pun tetap diarahkan ke rumah sakit untuk mempertahankan image yang sudah mereka miliki. Caranya, dengan terus memperkenalkan teknologi melalui endorsement yang selalu mengarah kepada anjuran para dokter. “Jadi ending-nya pasti ada dokternya,” kata Roby.
Kegiatan PR rutin lainnya selalu disesuaikan dengan momentum yang ada seperti Tahun Baru, 17 Agustus-an dan momen-momen bencana. Betadine baru beriklan jorjoran kalau mengeluarkan produk baru seperti Betadine Kids yang diluncurkan tahun lalu. “Kalau produk baru, kami full effort. TVC kami jalan, radio, dan media cetak. Kegiatan below the line (BTL) pun kami jalankan,” paparnya.
Sebagai market leader, harga yang dipatok disesuaikan dengan image yang telah diraih terhadap merek tersebut. Rata-rata, harga Betadine di pasaran 100% lebih tinggi dibandingkan dengan merek-merek lain. “Kalau kompetitor harganya Rp1.000, Betadine Rp2.000,” tandas Roby. (Rofian Akbar & Tajwini Jahari, Majalah Marketing).
Boleh jadi keberuntungan seperti yang dialami Betadine Antiseptic sulit ditemukan pada produk-produk lain. Hal itu bermula dari keputusan pemerintah yang melarang peredaran Obat Merah (cairan untuk mengobati luka) di pasaran setelah ditemukan komposisi yang membahayakan konsumen. Ada zat yang bisa menyebabkan kanker kulit. Padahal, Obat Merah hingga tahun 1990-an sudah menguasai pasar. Konsumen, tentu saja memerlukan penggantinya. Betadine Antiseptic memanfatkan kesempatan itu untuk menduduki posisi Obat Merah.
Kebetulan, produk yang lisensinya dibeli dari Dr Mundipharma AG, Switzerland itu sudah punya image kuat sebagai obat yang direkomendasi para dokter. Image itu diraih setelah 12 tahun bermain di ethical—yakni lewat dokter, rumah sakit dan klinik-klinik sebagai jalur pemasaran. “Begitu masuk ke OTC (over the counter), konsumen langsung percaya Betadine itu bagus. Jadi kami lebih mudah masuknya,” kata Roby Muljadi, Group Marketing Manager PT Mahakam Beta Farma.
Betadine mulai melakukan penetrasi ke pasar nasional tahun 1977 lewat PT Daya Muda Agung. Saat itu masih bersifat “maklon” alias membeli produk yang kemudian dikemas dan disistribusikan oleh pembelinya. Lalu, pada 1980 didirikanlah PT Mahakam Beta Farma yang menjadi subsidiari PT Daya Muda Agung. Dari sinilah kemudian Betadine diproduksi sendiri dengan tetap mengambil lisensi dari Mundipharma.
Pergerakan Betadine dari ethical bermula dari keterbatasan bujet. Maka, konsentrasinya saat itu hanya lewat dokter, rumah sakit dan klinik-klinik, yang mengandalkan tenaga medical representative. Meski begitu, penetrasinya sudah cukup kuat dan menjangkau Jawa, Medan, dan Ujung Pandang. Baru pada 1989, setelah dirasa kuat, Betadine mulai di OTC-kan. Berbarengan dengan itu, iklan pun mulai digarap di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.
Tanggapan konsumen ternyata positif. Rupanya, sebagain besar konsumen sudah tahu produk tersebut lewat komunikasi mouth to mouth ketika Betadine masih menggarap ethical. Dua tahun setelah melebarkan sayap ke OTC, keberuntungan terbesar pun datang. Sekitar tahun 1991, pemerintah mengeluarkan larangan peredaran Obat Merah. Momentum itu dipergunakan Betadine untuk berpromosi secara gencar di televisi swasta, yang saat itu baru ada dua: RCTI dan SCTV.
Hasilnya, Betadine menjadi pengganti posisi Obat Merah dan meraih seluruh pasar obat tersebut. Apalagi dalam tempo kurang dari dua tahun, distribusi Betadine sudah merambah ke warung-warung. Menurut Roby, saat itu perolehan market share Betadine langsung melonjak mencapai 40-50%. “Kami jadi market leader pada saat adanya larangan pemerintah terhadap Obat Merah. Betadine langsung meraih market share dari obat merah,” kata Roby.
Andalkan PR
Pemain obat luka sebenarnya cukup padat. Jumahnya pernah mencapai 33 brand yang bisa ditemukan di berbagai tempat. Mereka memperebutkan pasar obat luka yang mencapai Rp70 miliar per tahun. Tetapi, malangnya, sebagian tidak mampu bertahan dan kemudian dimatikan. Umumnya, para pemain tersebut berkonsentrasi memperkuat basis di daerah-daerah tertentu. Pemain yang relatif kuat antara lain Stardine, Unidine, dan Hexidine. Akan tetapi, merek-merek tersebut hanya memperebutkan 10% pangsa pasar. Sisanya, 90% sudah dikuasai Betadine yang 82% pangsanya dikontribusi dari OTC.
Meski jadi pemimpin, Betadine mengaku tidak mau jorjoran membombardir pasar dengan kegiatan komunikasi. Prinsip yang dianutnya simpel, komunikasi harus efektif. Karenanya, sekarang ini, ketika awareness Betadine sudah sangat tinggi, komunikasi lebih diarahkan kepada kegiatan public relations. Kegiatan PR itu pun tetap diarahkan ke rumah sakit untuk mempertahankan image yang sudah mereka miliki. Caranya, dengan terus memperkenalkan teknologi melalui endorsement yang selalu mengarah kepada anjuran para dokter. “Jadi ending-nya pasti ada dokternya,” kata Roby.
Kegiatan PR rutin lainnya selalu disesuaikan dengan momentum yang ada seperti Tahun Baru, 17 Agustus-an dan momen-momen bencana. Betadine baru beriklan jorjoran kalau mengeluarkan produk baru seperti Betadine Kids yang diluncurkan tahun lalu. “Kalau produk baru, kami full effort. TVC kami jalan, radio, dan media cetak. Kegiatan below the line (BTL) pun kami jalankan,” paparnya.
Sebagai market leader, harga yang dipatok disesuaikan dengan image yang telah diraih terhadap merek tersebut. Rata-rata, harga Betadine di pasaran 100% lebih tinggi dibandingkan dengan merek-merek lain. “Kalau kompetitor harganya Rp1.000, Betadine Rp2.000,” tandas Roby. (Rofian Akbar & Tajwini Jahari, Majalah Marketing).
Monday, March 07, 2005
Kesedihan
Kesedihan Bertemankan Kedalaman Sudah berjalan demikian lama dalam peradaban manusia, di mana kesedihan berdiri sebagai musuh atau penyakit yang menakutkan. Amat dan teramat sedikit orang yang merindukan kesedihan. Stres, sedih, penyakit dan bahkan depresi itulah rekan-rekan yang diyakini dibawa kesedihan setiap kali ia berkunjung. Tidak ada teman lain. Sehingga bisa dimaklumi, kalau kemudian kesedihan duduk dalam kursi musuh yang hanya layak ditakuti. Tentu saja akan menimbulkan perdebatan yang panjang, kalau tiba-tiba secara antagonistis ada yang berucap,
"Kalau kesedihan adalah kawan yang amat menawan."
Terlepas dari perdebatan terakhir, kesedihan memang kerap membawa luka-luka. Salah-salah, kesedihan juga yang bisa membawa manusia tergelincir ke dalam luka-luka jiwa yang menakutkan. Hampir semua manusia yang mengalami luka-luka jiwa awalnya dibukakan pintu oleh kesedihan. Sebutlah luka-luka jiwa yang di permukaan muncul dalam judul gila, perceraian, pembunuhan apalagi peperangan. Kesedihan, kekecewaan dan wajah emosi sejenislah yang menjadi pembuka pintunya. Tentu mudah dipahami kalau banyak orang kemudian menakutinya. Sayangnya, setakut apa pun manusia sama kesedihan, sejauh apa pun manusia lari dari kesedihan, sehebat apa pun alat pelindung yang dimiliki manusia, tidak ada satu pun kekuatan yang bisa membuat manusia absen sepenuhnya dari kesedihan. Datang dan datang lagi, itulah perilaku kesedihan. Entah dia datang untuk tujuan apa pun, kalau saatnya datang, ya, datang. Ada sahabat yang memberi judul kejam akan hal ini, sebab tidak menyisakan pilihan lain. Belajar dari kenyataan dalam bentuk tidak ada pilihan lain inilah, kemudian ada sejumlah penekun kejernihan yang mencoba membuka wajah-wajah lain dari kesedihan. Ternyata, tidak semua wajah kesedihan itu buruk. Sebagian wajah kesedihan malah membukakan pintu-pintu kemuliaan. Dalam kondisi kelelahan mengalami kesedihan, seorang pejalan kaki di dunia kejernihan pernah sampai dalam kesadaran, kalau kesedihan hanyalah petunjuk adanya kedangkalan. Semakin dangkal pemahaman seseorang akan kehidupan, semakin sering kesedihan berkunjung. Makna ini sekaligus memberikan masukan, kesedihan datang untuk menggali dalam-dalam sumur pemahaman. Agak sulit membayangkan ada kedalaman pemahaman akan kehidupan, tanpa melalui perjalanan panjang akan kesedihan. Tanpa kesedihan, meminjam istilah seorang guru, yang tersisa hanya swimologi. Belajar berenang hanya dengan memandang gambar kolam renang. Tentu saja tidak bisa berenang ujungnya. Menyelam dalam di tengah kolam renungan seperti inilah, kemudian mulai ada orang yang berterimakasih akan kunjungan kesedihan. Bukan karena mau gagah-gagahan, sekali lagi bukan. Melainkan karena hanya kesedihan yang bisa memperdalam kolam-kolam pemahaman. Dalam bahasa lain, kesedihan adalah salah satu saklar yang menghidupkan cahaya-cahaya jiwa. Sedih didatangi kesedihan, namun berbekalkan keikhlasan di depan Tuhan, seorang sahabat pernah mengobati kesedihannya dengan berbagi SMS ke sejumlah rekan dekat:
"Kala kesedihan datang, semua melawan. Tatkala ia pergi, sedikit yang menyadari kalau kesedihan adalah hadiah kehidupan."
Tidak sedikit sahabat yang berempati melalui kata terimakasih dalam hal ini. Sebagian bahkan menambahkannya dengan ungkapan-ungkapan pendalaman akan kesedihan. Dengan mengutip sebuah pepatah tua dari Vietnam, seorang sahabat ada yang membalas pesan di atas dengan kalimat menyentuh seperti ini:
"When there is joy, there is suffering. When you want no suffering, you must not accept any joy."
Di mana ada sukacita, di sana ada dukacita. Bila tidak mau dukacita, janganlah menerima sukacita. Anda lihat sendiri, pesan terakhir demikian menyentak. Sukacita dan dukacita memang dua wajah dari mata uang yang sama. Bila mau sukacita, tentu dukacita ikut bersamanya. Bila tidak mau dukacita, maka sukacita pun tidak perlu diundang untuk datang. Tentu saja teramat susah untuk tidak mengundang sukacita. Makan enak, udara segar, istri/suami yang setia, anak-anak yang bersukaria, berkah kehidupan semuanya adalah bahasa-bahasa sukacita. Namun, bukankah sukacita juga membawa dukacita di belakang punggungnya? Dalam peta pemahaman seperti ini, bisa dimaklumi kalau kemudian sejumlah penekun serius kejernihan kemudian mempersedikit frekuensi datangnya sukacita. Ada yang tidur tanpa kasur dan bantal, ada yang hanya makan sampai jam dua belas siang sisanya puasa setiap hari, ada yang hanya mengenakan pakaian seadanya, ada yang tidak pernah memakai sepatu namun hanya sandal jepit, ada yang menjadi vegetarian, ada yang mengorbankan seluruh kehidupan hanya untuk orang lain, dan tentu saja masih ada cara lain. Apa pun caranya, tetap pedomannya satu: mengurangi kedatangan sukacita. Bagi banyak orang biasa, tentu saja sikap seperti ini bisa disebut sebagai sebuah keberanian. Sekaligus cermin kedalaman pemahaman akan kehidupan yang mengagumkan. Ada sahabat yang ragu sambil bertanya,
"Memang ada kebahagiaan yang tersisa dalam kehidupan yang dibimbing kesedihan?"
Inilah susahnya kata-kata. Sehebat-hebatnya kata-kata, ia hanya sampai pada tingkatan swimologi. Dan berenang, hanya bisa dilakukan oleh manusia yang datang ke kolam renang, menceburkan diri, kemudian belajar melalui tangan pertama. Dan kesedihan mendalam yang dialami langsung, bukankah ia sejenis kolam renang yang bisa mematikan bisa juga mencerahkan?
"Kalau kesedihan adalah kawan yang amat menawan."
Terlepas dari perdebatan terakhir, kesedihan memang kerap membawa luka-luka. Salah-salah, kesedihan juga yang bisa membawa manusia tergelincir ke dalam luka-luka jiwa yang menakutkan. Hampir semua manusia yang mengalami luka-luka jiwa awalnya dibukakan pintu oleh kesedihan. Sebutlah luka-luka jiwa yang di permukaan muncul dalam judul gila, perceraian, pembunuhan apalagi peperangan. Kesedihan, kekecewaan dan wajah emosi sejenislah yang menjadi pembuka pintunya. Tentu mudah dipahami kalau banyak orang kemudian menakutinya. Sayangnya, setakut apa pun manusia sama kesedihan, sejauh apa pun manusia lari dari kesedihan, sehebat apa pun alat pelindung yang dimiliki manusia, tidak ada satu pun kekuatan yang bisa membuat manusia absen sepenuhnya dari kesedihan. Datang dan datang lagi, itulah perilaku kesedihan. Entah dia datang untuk tujuan apa pun, kalau saatnya datang, ya, datang. Ada sahabat yang memberi judul kejam akan hal ini, sebab tidak menyisakan pilihan lain. Belajar dari kenyataan dalam bentuk tidak ada pilihan lain inilah, kemudian ada sejumlah penekun kejernihan yang mencoba membuka wajah-wajah lain dari kesedihan. Ternyata, tidak semua wajah kesedihan itu buruk. Sebagian wajah kesedihan malah membukakan pintu-pintu kemuliaan. Dalam kondisi kelelahan mengalami kesedihan, seorang pejalan kaki di dunia kejernihan pernah sampai dalam kesadaran, kalau kesedihan hanyalah petunjuk adanya kedangkalan. Semakin dangkal pemahaman seseorang akan kehidupan, semakin sering kesedihan berkunjung. Makna ini sekaligus memberikan masukan, kesedihan datang untuk menggali dalam-dalam sumur pemahaman. Agak sulit membayangkan ada kedalaman pemahaman akan kehidupan, tanpa melalui perjalanan panjang akan kesedihan. Tanpa kesedihan, meminjam istilah seorang guru, yang tersisa hanya swimologi. Belajar berenang hanya dengan memandang gambar kolam renang. Tentu saja tidak bisa berenang ujungnya. Menyelam dalam di tengah kolam renungan seperti inilah, kemudian mulai ada orang yang berterimakasih akan kunjungan kesedihan. Bukan karena mau gagah-gagahan, sekali lagi bukan. Melainkan karena hanya kesedihan yang bisa memperdalam kolam-kolam pemahaman. Dalam bahasa lain, kesedihan adalah salah satu saklar yang menghidupkan cahaya-cahaya jiwa. Sedih didatangi kesedihan, namun berbekalkan keikhlasan di depan Tuhan, seorang sahabat pernah mengobati kesedihannya dengan berbagi SMS ke sejumlah rekan dekat:
"Kala kesedihan datang, semua melawan. Tatkala ia pergi, sedikit yang menyadari kalau kesedihan adalah hadiah kehidupan."
Tidak sedikit sahabat yang berempati melalui kata terimakasih dalam hal ini. Sebagian bahkan menambahkannya dengan ungkapan-ungkapan pendalaman akan kesedihan. Dengan mengutip sebuah pepatah tua dari Vietnam, seorang sahabat ada yang membalas pesan di atas dengan kalimat menyentuh seperti ini:
"When there is joy, there is suffering. When you want no suffering, you must not accept any joy."
Di mana ada sukacita, di sana ada dukacita. Bila tidak mau dukacita, janganlah menerima sukacita. Anda lihat sendiri, pesan terakhir demikian menyentak. Sukacita dan dukacita memang dua wajah dari mata uang yang sama. Bila mau sukacita, tentu dukacita ikut bersamanya. Bila tidak mau dukacita, maka sukacita pun tidak perlu diundang untuk datang. Tentu saja teramat susah untuk tidak mengundang sukacita. Makan enak, udara segar, istri/suami yang setia, anak-anak yang bersukaria, berkah kehidupan semuanya adalah bahasa-bahasa sukacita. Namun, bukankah sukacita juga membawa dukacita di belakang punggungnya? Dalam peta pemahaman seperti ini, bisa dimaklumi kalau kemudian sejumlah penekun serius kejernihan kemudian mempersedikit frekuensi datangnya sukacita. Ada yang tidur tanpa kasur dan bantal, ada yang hanya makan sampai jam dua belas siang sisanya puasa setiap hari, ada yang hanya mengenakan pakaian seadanya, ada yang tidak pernah memakai sepatu namun hanya sandal jepit, ada yang menjadi vegetarian, ada yang mengorbankan seluruh kehidupan hanya untuk orang lain, dan tentu saja masih ada cara lain. Apa pun caranya, tetap pedomannya satu: mengurangi kedatangan sukacita. Bagi banyak orang biasa, tentu saja sikap seperti ini bisa disebut sebagai sebuah keberanian. Sekaligus cermin kedalaman pemahaman akan kehidupan yang mengagumkan. Ada sahabat yang ragu sambil bertanya,
"Memang ada kebahagiaan yang tersisa dalam kehidupan yang dibimbing kesedihan?"
Inilah susahnya kata-kata. Sehebat-hebatnya kata-kata, ia hanya sampai pada tingkatan swimologi. Dan berenang, hanya bisa dilakukan oleh manusia yang datang ke kolam renang, menceburkan diri, kemudian belajar melalui tangan pertama. Dan kesedihan mendalam yang dialami langsung, bukankah ia sejenis kolam renang yang bisa mematikan bisa juga mencerahkan?
Friday, March 04, 2005
Laksana Ragam Bunga
Lihatlah betapa indahnya taman bunga. Beragam jeniswarna dan bau wewangian ada di sana. Ada yang merah,putih, kuning, ungu, dan lain sebagainya. Ada pulayang besar namun banyak juga yang kecil. Semuanya mempesona untuk menghiasi dunia. Betapa Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan dengan menciptakan taman bunga justru dari beragam hal-hal yang berbeda.Berpadu menyemburatkan nuansa indah, menggoda mata untuk meliriknya.
Coba pula amati keindahan kuntum bunga yang sedang berkembang. Mekar mewangi menengadahkan kelopaknya kelangit. Dengarlah simfoni alam yang mengalunkan tasbih dan tahmid, tatkala bulir-bulir embun di ujung daun jatuh ke tanah. Rasakan juga kelembutan sinar mentari yang diselingi tiupan semilir angin. Indah... Semua begitu indah mempesona. Mengalunkan untaian senandung kesyukuran kepada Sang Pencipta. Hmm... Bukankah kehidupan kita pun laksana ragam bunga ditaman? Penuh dengan segala fitrah perbedaan. Namun itulah yang membuat hidup ini menjadi penuh warna dan makna. Bahkan, mestinya sebuah perbedaan justru harusmenjadi pelajaran.
Tentang bagaimana kita menghadapi,dan memetik hikmah dari semua perbedaan yang terjadi. Namun sayang... Terkadang kita semua bukanlah laksana taman bunga yang dengan segala perbedaannya menimbulkan keindahan.Masing-masing kita seumpama sekuntum bunga yang ingin menyeruak sendirian. Berupaya agar kuntumnya saja yangterlihat cantik, indah dan menawan. Padahal, andaikan semua kuntum bunga itu mekar bersama, tentu akan menimbulkan keindahan yang lebih menakjubkan. Betapa di zaman sekarang ini umat Islam sedang dalam kehinaan, sedangkan kita masih saja larut dengan kesibukan mempermasalahkan perbedaan khilafiyah.Bahkan, tak jarang hingga melepaskan ikatan tali persaudaraan.
Kadang kita pun lupa dengan saudara kitasendiri yang juga berjuang untuk kemuliaan Islam.Buruk sangka dan saling menjatuhkan, sehingga yangterjadi adalah perpecahan.Sesungguhnya, ide dan gagasan dakwah yang beragam itu adalah kekuatan. Semua akan menjadi sebuah gerakan terorganisir, rapih, solid dan militan yang insyaAllah merubah kondisi ummat hingga tak ada lagi fitnah atas Islam. Menciptakan sebuah taman yang indah, dari beragam bunga, sehingga bukan kita saja yang menikmatinya. Namun, akan menjadi taman bunga yang mengundang semua orang dari segala penjuru dunia untuk bersama menikmati keindahannya. Bukankah seorang mujahid Islam, Hasan al-Banna, pun pernah mengatakan bahwa perbedaan itu bukanlah suatukemustahilan. Tetapi yang diharapkan, walaupun mempunyai kepentingan sendiri, jangan sampai menutupi kepentingan bersama untuk menegakkan qalam ILlahi dimuka bumi. Antum ruhun jadidah tarsi fi ja-sadil ummah! Kitalah ruh dan jiwa baru itu. Yang mengalir di tubuh ummat, menghidupkan tubuh yang mati dengan al-Qur'an.Siap menjadi anak-anak panah yang dilepaskan dari sebuah busur, pedang-pedang tajam untuk menebas musuh, atau laksana dahsyatnya butir peluru yang ditembakkan dan melaju.Wujudkan seluruh kemampuan untuk kemuliaan Islam hingga jihad fi sabiliLlah menemui kita. Karena setiapdirimu pun laksana sekuntum bunga dari sekian banyak ragam bunga di dunia. Tumbuh dan mekarlah dengan khas wewangian-mu. Sirami selalu dengan aqidah dan akhlak terbaik, hingga tiba saatnya kita bersama menghiasi dunia ini dengan keindahan ajaran Islam. Kemenangan yang dijanjikan itu akan tiba, percayalah!
Semoga tak akan ada lagi di antara kita yang merasa jamaahnya saja yang terbesar, paling benar, terbanyak pengikutnya atau telah banyak berbuat untuk Islam.Siapkan diri, rapatkan barisan, luruskan shaf, rajut ukhuwah Islamiyah di antara kita. Siapapun engkau, apapun namanya dirimu, jangan pedulikan. Karena yang terpenting kita semua adalah bunga-bunga Islam yang siap sedia menyebarkan wanginya ke segala penjuru dunia. Galang persatuan dan kesatuan, bersama tegakkan Al-Islam. Allahu Akbar!!! WaLlahu a'lamu bish-shawaab.
Thursday, March 03, 2005
Menjadi orang yang berwibawa
Menjadi orang yang berwibawa bukanlah perkara mudah, namum sesungguhnya jika kita sanggup memiliki sikap ini, terutama bagi pemimpin, akan lebih mudah dalam berinteraksi dengan orang lain. Berikut ini beberapa prinsip yang harus dilakukan jika ingin mempunyai sikap berwibawa,
Pertama, harus sesuai apa yang dibicarakan dengan yang diperbuat. Artinya, kita hanya berbicara, menganjurkan sesuatu yang telah kita perbuat saja. Kalaupun kita sendiri belum melaksanakan, disiplin misalnya, sebaiknya kita tidak menyuruh orang lain untuk disiplin dulu. Akan jauh lebih baik, jika kita segera berlatih disiplin, tunjukkan saja kegigihan kita. Kadang, menyuruh orang lain dengan perbuatan bisa jauh lebih efektif ketimbang menyuruh dengan lisan. Apalagi, dalam Al-Qur'an, Allah telah menegaskan tentang betapa besarnya murka Allah bagi orang yang berkata sesuatu yang tidak diperbuatnya. Begitupun Rasulullah saw, beliau adalah orang yang sungguh sesuai apa yang diucapkan dengan yang diperbuatnya.
Kedua, tidak banyak melakukan kesalahan.Orang yang kerap melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang menyebabkan akan turun kewibawaannya.Orang seperti ini tidak mau belajar dari kesalahan, tidak peduli meski melakukan kesalahan yang berulang. Orang lain pun, akan menilai negatif kepadanya, dan boleh jadi tidak mempercayainya lagi untuk mengerjakan hal tersebut. Sehingga, jika ingin menjadi orang yang berwibawa, jangan pernah bosan belajar dari kesalahan. Kesalahan itu manusiawi, wajar, dan pasti dimaklumi. Namun jika terjadi berulang-ulang, dan tidak memperbaiki diri, niscaya orang menjadi tidak percaya. Tentu akan jatuh wibawanya.
Ketiga, orang juga akan jatuh wibawanya jika terbongkar aibnya. Misalnya, sudah gaya, pejabat, tapi ternyata ijazahnya palsu. Terbukanya aib sungguh merupakan alat ampuh untuk meruntuhkan kewibawaan seseorang. Jadi, memiliki track record yang baik adalah sangat penting dan harus dimiliki setiap diri. Kalau sudah ada cacat dalam track record, kita harus bersusah payah untuk membangun kepercayaan orang kembali. Sehingga, jangan pernah mencoba-coba melakukan kesalahan besar yang fatal, karena kalau tidak sekarang, kelak mesti dapat terbuka. Bukankah Allah berkuasa membuka aib setiap manusia ? Kalaupun terlanjur, pintu taubat tentu masih akan terbuka lebar, kalau kita sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Dan, Semoga Alloh mengampuni kita, Amiin.
Terakhir, teruslah berupaya berahklaq mulia. Karena, orang bisa runtuh wibawanya kalau akhlaqnya, prilakunya kurang baik. Siapapun tentu akan lebih suka berinteraksi dengan orang yang berahklaq baik. Untuk itu, setiap hari teruslah perbaiki akhlaq kita, tidak hanya manfaat untuk orang lain, bagi diri sendiri tentu akan berguna pula.
Sumber majalah Swadaya DPU-DT edisi April 2004
Info Software Al-Quran (free)
Untuk anda yang membutuhkan Al-Quran dalam bentuk software (english and arabic).. bisa anda download secara free di www.divineislam.com saya sudah mencoba dan menggunakannya... semoga informasi ini bermanfaat. Amien
Monday, December 20, 2004
Al Wasyi’ - Yang Maha Luas
Aa Gym
Bismillaahirrahmanirrahiim,
Semoga Allah Yang Maha Luas memberikan hidayah kepada kita untuk faham akan kelapangan sehingga menjadi lebih faham akan hidup ini. Karena uang yang tidak luas susah sedekahnya, pikiran yang sempit mudah putus asa.
Rekan-rekan sekalian, kita akan membahas salah satu asma Allah Al Wasyi'. Al Wasyi' artinya dalam bahasa yang sederhana adalah Allah Yang Maha Luas. Kalau saya ambil kutipannya, terambil dari akar kata Waw, Sin dan 'in yang maknanya berkisar kebalikan dari sempit, kebalikan dari sulit. Jadi Allah Al Wasyi'. Allah Maha Luas, Maha lapang, Maha Kaya, Maha Mampu. Alam semesta yang begini luasnya, Allah lebih luas dari apa yang Dia ciptakan. Allah tidak dibelenggu oleh tempat. Kalau Allah ada disuatu tempat yang kita bayangkan, maka tempat lebih besar dari pada Allah. Sedangkan Allah SWT Laysa kamis lihi syai'un - Tidak menyerupai dan diserupai apapun. Jadi Ilmu Allah menyelimuti segala sesuatu. Karena Maha Luas, maka meliputi apa saja. Pengetahuan Allah Maha Luas, mengetahui apa saja. Allah Maha Luas Rizkinya meliputi apa saja dalam genggaman Allah. Orang-orang yang yakin kepada Maha Luasnya Kekuasaan Allah berarti tidak ada satupun di alam semesta ini yang luput dari genggaman Allah. Virus Sars yang menggemparkan, kenapa mesti takut. Virus Sars adalah ciptaan Allah SWT. Hidupnya oleh Allah dan kena kepada siapa yang dikehendaki Allah. Kekuasaan Allah meliputi virus sars, maka jangan takut oleh sars. Karena orang mati karena tabrakan lebih banyak. Yang mati karena mencret lebih banyak. Yang harus kita takutkan justru virus iman yang lebih mencelakakan. Orang terkena sars belum tentu su'ul khatimah. Tidak sedikit orang yang tadinya sehat tetapi matinya nista. Na'udzubillahi mindalik. Jadi kita harus menjaga untuk bisa mengambil hikmah. Saya kira sudah standart kita ingin rumah yang luas. Kalau rumah kita kecil, penghuninya banyak peluang bertengkar. Kalau mau masuk kemudian bersinggungan marah. Kalau mau tidur, tempat tidur sempit, sehingga geser ke sini yang pinggir terguling. Jalan yang sempit membuat macet. Kita harus senang kepada keluasan. Ilmu yang luas bijak, rizki yang luas enak. Kalau rizki sempit sedekah susah.
Sahabat sekalian kita harus berjuang sekuat tenaga menjadi orang berwawasan luas. Kalau orang wawasannya sempit mudah emosi. Banyak orang yang menganggap keluasan rizki harta itu terpenting, ternyata tidak. Rizki harta itu penting, kalau dengan wawasan yang luas. Maka rekan-rekan sekalian berangkat pengajian kita mengeluarkan ongkos, ini bukan pengeluaran. Apapun yang membuat pengalaman, wawasan, ilmu bertambah, itu bukan pengeluaran tetapi investasi. Orang yang berwawasan luas sibuk memikirkan yang menggenggam alam semesta, tetapi orang yang punya harta dan wawasannya tidak luas, tidak mengerti apa arti hidup ini. Ketika mempunyai keinginan untuk bahagia, kita harus berusaha mencari harta dan memperluas wawasan.
Sesuatu yang sederhana, bahan sederhana, teknologi sederhana, maka manfaatnya juga sederhana. Tetapi teknologi yang canggih, bahan bagus, walaupun bentuk sederhana, karena berasal dari kecanggihan teknologi, keunggulan bahan, maka hasilnya tidak akan sederhana dan akan canggih. Ada orang yang hidup sederhana, karena memang inputnya sederhana, diamnya tidak mengerti apa-apa. Tetapi ada ada orang yang banyak ilmu, luas wawasanya, diamnya saja mempunyai arti. Bicaranya sederhana, maknanya luas dan dalam, itulah buah dari luasnya wawasan. Rekan-rekan kita berharap hidup lebih indah, bergairah karena luas wawasan.
Bagaimana melapangkan qolbu ? Kuncinya jangan mendramatisir masalah-masalah kecil. Ingin menikmati hidup jangan terpancing emosional dari perkara-perkara remeh. Yassiru wala tu'asyiru. Mudahkan jangan dipersulit. Jadi jangan mudah tersinggung , mendramatisir, dan mempersulit hidup, maka akan bahagia. Jadilah pemaaf, Fainta'fu watasfahu watafqifim Fainallaha ghafururrahiim. Kalau kita senang ikhlas, senang memaafkan orang, ampunan dan kasih sayang Allah akan datang. Kapan kita berprestasinya jika setiap masalah dijadikan lebih ruwet. Setiap urusan kita kembalikan kepada Allah, maka urusannya akan menjadi ringan. Wadhkurullaha la'allakum tuflikhun. Marilah kita lapangkan pikiran, jangan dipersulit. Kita lapangkan wawasan kita, kita lapangkan hati kita dengan tidak mempersulit diri dan menjadi pemaaf dengan memperbanyak dzikir.
Alhamdulillaahirobbil’alamin
Sumber: Buletin InfoDT Jakarta - No.17/Tahun IV/Desember 2004
Bismillaahirrahmanirrahiim,
Semoga Allah Yang Maha Luas memberikan hidayah kepada kita untuk faham akan kelapangan sehingga menjadi lebih faham akan hidup ini. Karena uang yang tidak luas susah sedekahnya, pikiran yang sempit mudah putus asa.
Rekan-rekan sekalian, kita akan membahas salah satu asma Allah Al Wasyi'. Al Wasyi' artinya dalam bahasa yang sederhana adalah Allah Yang Maha Luas. Kalau saya ambil kutipannya, terambil dari akar kata Waw, Sin dan 'in yang maknanya berkisar kebalikan dari sempit, kebalikan dari sulit. Jadi Allah Al Wasyi'. Allah Maha Luas, Maha lapang, Maha Kaya, Maha Mampu. Alam semesta yang begini luasnya, Allah lebih luas dari apa yang Dia ciptakan. Allah tidak dibelenggu oleh tempat. Kalau Allah ada disuatu tempat yang kita bayangkan, maka tempat lebih besar dari pada Allah. Sedangkan Allah SWT Laysa kamis lihi syai'un - Tidak menyerupai dan diserupai apapun. Jadi Ilmu Allah menyelimuti segala sesuatu. Karena Maha Luas, maka meliputi apa saja. Pengetahuan Allah Maha Luas, mengetahui apa saja. Allah Maha Luas Rizkinya meliputi apa saja dalam genggaman Allah. Orang-orang yang yakin kepada Maha Luasnya Kekuasaan Allah berarti tidak ada satupun di alam semesta ini yang luput dari genggaman Allah. Virus Sars yang menggemparkan, kenapa mesti takut. Virus Sars adalah ciptaan Allah SWT. Hidupnya oleh Allah dan kena kepada siapa yang dikehendaki Allah. Kekuasaan Allah meliputi virus sars, maka jangan takut oleh sars. Karena orang mati karena tabrakan lebih banyak. Yang mati karena mencret lebih banyak. Yang harus kita takutkan justru virus iman yang lebih mencelakakan. Orang terkena sars belum tentu su'ul khatimah. Tidak sedikit orang yang tadinya sehat tetapi matinya nista. Na'udzubillahi mindalik. Jadi kita harus menjaga untuk bisa mengambil hikmah. Saya kira sudah standart kita ingin rumah yang luas. Kalau rumah kita kecil, penghuninya banyak peluang bertengkar. Kalau mau masuk kemudian bersinggungan marah. Kalau mau tidur, tempat tidur sempit, sehingga geser ke sini yang pinggir terguling. Jalan yang sempit membuat macet. Kita harus senang kepada keluasan. Ilmu yang luas bijak, rizki yang luas enak. Kalau rizki sempit sedekah susah.
Sahabat sekalian kita harus berjuang sekuat tenaga menjadi orang berwawasan luas. Kalau orang wawasannya sempit mudah emosi. Banyak orang yang menganggap keluasan rizki harta itu terpenting, ternyata tidak. Rizki harta itu penting, kalau dengan wawasan yang luas. Maka rekan-rekan sekalian berangkat pengajian kita mengeluarkan ongkos, ini bukan pengeluaran. Apapun yang membuat pengalaman, wawasan, ilmu bertambah, itu bukan pengeluaran tetapi investasi. Orang yang berwawasan luas sibuk memikirkan yang menggenggam alam semesta, tetapi orang yang punya harta dan wawasannya tidak luas, tidak mengerti apa arti hidup ini. Ketika mempunyai keinginan untuk bahagia, kita harus berusaha mencari harta dan memperluas wawasan.
Sesuatu yang sederhana, bahan sederhana, teknologi sederhana, maka manfaatnya juga sederhana. Tetapi teknologi yang canggih, bahan bagus, walaupun bentuk sederhana, karena berasal dari kecanggihan teknologi, keunggulan bahan, maka hasilnya tidak akan sederhana dan akan canggih. Ada orang yang hidup sederhana, karena memang inputnya sederhana, diamnya tidak mengerti apa-apa. Tetapi ada ada orang yang banyak ilmu, luas wawasanya, diamnya saja mempunyai arti. Bicaranya sederhana, maknanya luas dan dalam, itulah buah dari luasnya wawasan. Rekan-rekan kita berharap hidup lebih indah, bergairah karena luas wawasan.
Bagaimana melapangkan qolbu ? Kuncinya jangan mendramatisir masalah-masalah kecil. Ingin menikmati hidup jangan terpancing emosional dari perkara-perkara remeh. Yassiru wala tu'asyiru. Mudahkan jangan dipersulit. Jadi jangan mudah tersinggung , mendramatisir, dan mempersulit hidup, maka akan bahagia. Jadilah pemaaf, Fainta'fu watasfahu watafqifim Fainallaha ghafururrahiim. Kalau kita senang ikhlas, senang memaafkan orang, ampunan dan kasih sayang Allah akan datang. Kapan kita berprestasinya jika setiap masalah dijadikan lebih ruwet. Setiap urusan kita kembalikan kepada Allah, maka urusannya akan menjadi ringan. Wadhkurullaha la'allakum tuflikhun. Marilah kita lapangkan pikiran, jangan dipersulit. Kita lapangkan wawasan kita, kita lapangkan hati kita dengan tidak mempersulit diri dan menjadi pemaaf dengan memperbanyak dzikir.
Alhamdulillaahirobbil’alamin
Sumber: Buletin InfoDT Jakarta - No.17/Tahun IV/Desember 2004
Monday, December 13, 2004
Kredibilitas
| PERTAMA : "Aku Harus Jujur Yang Terbukti dan Teruji"
Aku menyadari bahwa kejujuran adalah perilaku kunci yang sangat efektif untuk membangun kredibilitas atau bahkan sebaliknya menghancurkanku.Karenanya aku tidak akan sekali-kali berbohong atau terpancing untuk menambah omongan sehingga menjadi dusta walau dengan gurauan sekalipun. Aku hanya akan mengatakan yang aku yakini kebenarannya.Aku tidak akan pernah mengingkari janji, aku pastikan setiap janji yang kuucapkan sudah aku perhitungkan matang-matang, dan aku akan berusaha dengan keras untuk memenuhi janji itu walaupun harus berkorban banyak hal.Aku akan tepat waktu dalam segala hal, tidak akan terlambat ataugemar menunda-nunda atau bahkan mengakhirkan padahal banyak kesempatan.Akan kubiasakan untuk mempunyai fakta dan data yang jelas, bersikap terbuka serta tidak bertindak sembunyi-sembunyi atau menyembunyikan banyak hal (tentu saja kekecualian pada hal-hal yang menurut agama patut disembunyikan)Aku harus pula memiliki kemampuan untuk mengevaluasi diri,memperbaiki dan bertanggung jawab dengan tulus terhadap apapun yang terjadi sehingga akan menjadikan pancaran yang akan turut menghapuskan kesalahan yang pernah kulakukan.Aku tidak akan pernah patah semangat dan berputus asa, peluang untuk berubah sangat luas namun semua butuh proses, percayalah ALLOH Maha Pemberi Jalan dan sangat mudah baginya untuk memuliakan atau menjatuhkan siapapun. KEDUA : "Aku Harus Cakap" Aku menyadari bahwa walaupun kejujuran sudah teruji dan terbukti tapi apabila lalai dalam melaksanakan tugas, tetap akan merontokkan kredibilitasSehingga Aku menyadari sangatlah penting untuk memiliki selera dan tradisi berbuat, berkarya dengan semaksimal mungkin tidak hanyasesuai target bahkan kalau bisa lebih dari target.Untuk menjadi cakap aku tahu kuncinya, yaitu harus melatih diri, mengembangkan kemampuan wawasan dan keterampilan secara kontinyu dan sistematis sehingga memiliki kesiapan memadai.Setiap melakukan sesuatu aku mengawali segalanya dengan perencanaan yang baik karena perencanaan yang gagal berarti sama dengan merencanakan gagal. Mottoku "LEBIH BAIK BERSIMBAH KERINGAT dalam latihan, daripada BERSIMBAH DARAH DALAM PERTEMPURAN". Aku selalu melakukan check and recheck. Hal ini agar kesempatan untuk melakukan kesalahan dapat aku minimalkan.Segala sesuatu harus aku lakukan dengan kesungguhan, hati-hati dan cermat. Jangan menganggap remeh kelalaian dan kecerobohan karena ini adalah biangnya kesalahan dan kegagalan.Dalam setiap tahapan aku harus mengevaluasi diri sebagai kontrol agar aku tidak kebablasan dalam melakukan kesalahan. Percayalah merenung sejenak akan membuat karyaku semakin bermutu. Aku harus menyempurnakan amal, karena itu merupakan kenikmatan.Sekali lagi akan aku nikmati menyempurnakan apa yang bisa kulakukan. Jikalau aku tergelincir melakukan kesalahan secara sengaja atau tidak sengaja maka aku tidak akan rontok seakan-akan habislah segala-galanya. Ingatlah kalau nasi sudah menjadi bubur, pola pikirku adalah menjadikan bubur itu menjadi bubur ayam spesial. KETIGA : " Aku Harus Inovatif " Aku menyadari bahwa segala sesuatu yang ada akan berubah, di duniaini tidak ada satu pun yang tidak berubah, satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Maka Aku siapkan diri untuk mengikuti perubahan, karena jikalau aku tidak bisa mengimbanginya, akan tergilaslah Aku oleh perubahan itu.Amatlah rugi bagiku jika hari kemarin sama dengan hari ini, celakalah aku apabila hari ini lebih buruk dari kemarin, ini berarti aku akan tertinggal jauh dan sulit mengejar orang lain yang komit dengan perubahan.Untuk bisa inovatif aku senantiasa banyak membaca dan menulis, sehingga kumiliki perpustakaan pribadi, kusediakan dana untuk membeli bahan bacaan, dan kuluangkan waktu untuk membacanya.Akupun harus banyak berdiskusi dan membaca, caranya dengan kucari dan kumiliki banyak teman dari berbagai disiplin ilmu dan kubiasakanuntuk terus mendapatkan masukan, baik dengan bertanya atau mendengarkan.Dan kuusahakan pula memiliki progaram silaturahim secara berkala dan terpola, sehingga perkembangan kemampuanku akan semakin terukur. Akupun harus banyak melihat dan mengadakan studi banding (benchmark). Kunjunganku baik resmi ataupun tidak adalah ketempat yang dapat menambah wawasan, memancing inspirasi, membuka visi baru, yang pasti nuansa-nuansa baruakan sangat membantu membangkitkan potensi yang lama terpendam.Kumiliki waktu luang untuk merenung dan bertafakur tanpa mengganggu kegiatan rutinku. Kucari tempat yang nyaman, kupilih waktu yang tepat. Bagiku sebagai Ummat Islam, ALLOH telah menyediakan tempatnya yaitu tahajjud, dengan simbahan air wudlu, kemudian sujud dan menyerahkan diri. Hal ini berdampak sekali bagiku dalam pengevaluasian langkah yang lebih tepat ke depan.Akupun harus banyak berbuat dan mencoba. Ku tidak pernah takut untuk mencoba. Guru terbaik bagiku adalah pengalaman.Akupun harus banyak beribadah dan berdoa. Aku sadar bahwa penguasa segala sesuatu adalah ALLOH Azza wa Jalla.Sungguh kapanpun akan mati aku telah siap dengan segala sesuatunya setelah aku berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk ALLOH, insya Allah semoga apa yang telah kulakukan DAPAT BERMAKNA BAGI DUNIA dan BERARTI AKHIRAT NANTI. |
Thursday, November 25, 2004
Hati Yang Senantiasa Merasakan Ramadhan
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shaleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat kejahatan, maka (dosanya) atas dirinya ; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba(Nya). (QS. Fushshilat 41:46)
Segala Puji Bagi Allah Swt seluas langit dan dunia serta apa yang ada sesudahnya. Syalawat dan salam pada junjungan kita Rasulullah Saw, keluarganya, para sahabatnya serta seluruh kaum muslimin dan muslimat di muka bumi ini.
Sahabatku tercinta rahimakumullah..,Bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita. Malam yang lebih baik dari seribu bulanpun tak akan lagi kita temukan, apakah dengan berakhirnya semua itu kita akan merasa kehilangan gairah untuk beribadah?!...
Tidak sahabat! sekali-kali tidak!. Ramadhan boleh hilang, namun hati kita akan senantiasa menikmatinya.
Saat berpuasa, dimana lapar dan dahaga menyesak dada, kita bisa merasakan betapa sakitnya penderitaan mereka yang kekurangan. Timbul rasa kasihan untuk menolong, memberikan sebahagian apa yang kita punya untuk mereka. Betapa nikmatnya bukan?! karena saat-saat seperti itu kita merasakan Allah begitu dekat di sisi kita. Karena itu kita tergugah untuk melanjutkannya dengan berpuasa selama 6 hari di bulan syawal, dan Senin Kamis di hari-hari mendatang. (Sesuai kadar kesanggupan kita) Bagi yang masih mempunyai hutang, akan lebih baik segera membayar.
Shalat Tarawih, akan terus kita lakukan dengan Qiyamul lail (tahajud) untuk memperkuat jiwa. Jangan lupa untuk menjaga setiap shalat kita.
Zakat, infak dan sedeqah. Dalam harta kita ada hak orang lain. Apa yang kita nafkahkan semata-mata karena Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Tidakkah kita ingin mendapatkannya?!.. Hati akan tenang jika senantiasa menabung untuk bekal pulang. Tak ada insan yang jatuh miskin karena menafkahkan hartanya.
Tilawah Qur'an akan terus kita lanjutkan. Sebab ia adalah kitab petunjuk dalam mengharungi samudra kehidupan. Al Qur'an juga merupakan shifa (obat) penentram hati, berisi peringatan dan ancaman bagi manusia dan alam semesta ini.
Menjaga diri dari perbuatan yang keji, menjaga makanan agar jasad dan ruhani tetap bersih, dan menyambung tali siraturrahmi. Sebagaimana Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang pada hamba-hamba-Nya, sudah sepatutnya kita saling memaafkan (berlapang dada) pada mereka yang pernah menyakiti kita.
Sungguh nikmat bukan? nikmat karena hati yang senantiasa merasakan Ramadhan. Nikmat merasa hidup dekat dengan Tuhan. Bukankah ini yang dicontohkan Rasulullah? Ibadah Ramadhan adalah cerminan akhlak Beliau setiap harinya.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al Ahzab 33:21)
Wahai Ummul mu'minin, kabarkanlah kepada kami tentang akhlak Rasulullah Saw. Aisyah berkata: Bukankah engkau pernah membaca Al Qur'an?. Jawab: Ya, Kata Aisyah: Akhlak Nabi Allah itu adalah Al Qur'an. (HR. Muslim)
Masa tinggal kita cuma sebentar, Sahabat..,Jikalau sisa-sisa usia ini tak mampu kita nikmati, betapa ruginya diri. Semoga Allah meridhai segala apa yang kita lakukan, Semoga kita bisa menatap wajah-Nya di hari yang telah dijanjikan, aamiin ya Rabbal 'aalamiin.
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shaleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (QS. Al Jaatsiyah 45:15)
Tuesday, October 26, 2004
Hakekat Do'a
Sumber: Manajemen Qolbu Online [Kajian Bening Hati - Kajian Hikam]
Oleh : Aa Gym
Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin. Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Kini, kita lihat sepertinya Amerika telah merasa menang terhadap Irak. Padahal rasa-rasanya ummat Islam sudah banyak berdo’a. Siang dan malam kita pun turut prihatin dengan keadaan di Irak. Namun, kalau kita lihat di TV sepertinya do’a kita tidak di ijabah. Jika ada sebuah pertanyaan, kenapa Allah tidak mengabulkan do’a? Sudah begitu jelekkah ummat Islam sehingga do’anya tidak dikabulkan ? Sebetulnya berbeda urusannya, antara kita berdo’a dengan dikabulkannya do’a tersebut.
Karena kita diperintah berdo’a oleh Allah, sedangkan mengabulkan itu adalah Kehendak Allah. Sesuai dengan kebijakan, kearifan dan janji-Nya. Bukankah kita tidak berdo’a saja ternyata lebih banyak diberi ? bukankah kita tidak berdo’a untuk meminta nafas, tapi buktinya kita selalu bernafas. Kita tidak berdo’a untuk minta makan, namun, bukankah sampai saat ini kita makan terus ? Banyak yang tidak kita minta, namun telah diberikan oleh Allah SWT. Bahkan yang tidak berdo’a juga sama-sama diberi oleh Allah rejeki. Yang meminta jodoh ada yang belum mendapatkan jodohnya.
Namun, yang tidak minta malah ada yang lebih dari satu. Yang tidak minta anak ada yang dikarunia banyak anak, namun ada yang telah meminta ternyata belum diberi oleh Allah. Jadi do’a itu tidak selalu identik dengan harus terwujud apa yang kita inginkan. Kita berdo’a itu, pertama, sebagai ibadah. Bagi kita, berdo’a akan dikabul atau tidak, Insya Allah tetap jadi amal soleh. Karena apa yang kita minta belum tentu yang terbaik dan belum tentu manfaat.
Maka, kita dikaruniakan bisa berdo’a saja itu sudah rejeki. Do’a itu merupakan dzikir. Do’a itu ibadah. Berdo’a itu tidak mudah, karena tidak semua orang bisa berdo’a. Maka, kalau gara-gara invasi Amerika ke Irak lalu bertambah do’a kita, tentu saja itu rejeki dari Allah sebagai kemenangan tersendiri. Lalu yang kedua, bentuk ijabahnya do’a itu tidak harus sesuai keinginan. Siapa tahu dengan invasi Amerika ini, kita sekarang semakin tahu siasat Amerika yang sebelumnya menyatakan sebagai pahlawan demokrasi dan ditiru di negeri kita. Ternyata demokrasi itu hanya tipuan. Amerika yang selalu memproklamirkan diri sebagai pembela hak azasi manusia, ternyata mereka juga pembunuh.
Sekarang Allah telah membukakan keadaan Amerika yang sebenarnya, yakni Amerika sebagai pelangggar hak Azasi manusia. Dulu kita begitu bangga, namun sekarang Alhamdulillah telah disingkapkan oleh Allah. Ini juga pertolongan Allah. Selama ini mungkin kita terhijab, namun sekarang kita jadi semakin tahu. Dulu kita merujuk ke Amerika, dan sekarang hati kita mulai dibukakan oleh Allah. Pertolongan itu tidak harus dalam bentuk kemenangan peperangan.
Memenangkan peperangan itu bukan berarti memenangkan kehidupan. Kehidupan ini hanya dimenangkan oleh orang yang kuat iman. Karena kalau kita beriman kepada Allah, saat diberi nikmat lalu kita bersyukur, Insya Allah jadi kebaikan. Diberikan musibah lalu kita bersabar, Insya Allah merupakan kebaikan pula. Tidak ada yang kerugian bagi orang beriman. Jika terluka, Insya Allah menggugurkan dosa. Jika terbunuh Insya Allah jadi syuhada.
Jadi, jangan ukur kesuksesan dengan atribut duniawi. Memenangkan peperangan, naik pangkat, berhasil dapat untung besar, semuanya tidak identik dengan ijabahnya do’a. Bahkan bisa jadi merupakan fitnah. Maka, yang harus kita lakukan kini adalah terus-menerus berdo’a. Karena do’a adalah dzikir kepada Allah.
Terserah Allah akan dikabulkan seperti apa, karena memang segalanya milik Dia. Yang penting kita terus istiqomah untuk memperbaiki diri. Terus istiqomah untuk berbuat yang lebih baik. Kemenangan itu adalah bagi orang yang bertaqwa “A'udzubillaahi minasyaithoonirrojiim, Inna Akramakum ‘indallaahi Atqaakum “ Orang yang menang adalah orang yang kokoh iman dan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah SWT. Waallahu A'lam.
Oleh : Aa Gym
Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin. Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Kini, kita lihat sepertinya Amerika telah merasa menang terhadap Irak. Padahal rasa-rasanya ummat Islam sudah banyak berdo’a. Siang dan malam kita pun turut prihatin dengan keadaan di Irak. Namun, kalau kita lihat di TV sepertinya do’a kita tidak di ijabah. Jika ada sebuah pertanyaan, kenapa Allah tidak mengabulkan do’a? Sudah begitu jelekkah ummat Islam sehingga do’anya tidak dikabulkan ? Sebetulnya berbeda urusannya, antara kita berdo’a dengan dikabulkannya do’a tersebut.
Karena kita diperintah berdo’a oleh Allah, sedangkan mengabulkan itu adalah Kehendak Allah. Sesuai dengan kebijakan, kearifan dan janji-Nya. Bukankah kita tidak berdo’a saja ternyata lebih banyak diberi ? bukankah kita tidak berdo’a untuk meminta nafas, tapi buktinya kita selalu bernafas. Kita tidak berdo’a untuk minta makan, namun, bukankah sampai saat ini kita makan terus ? Banyak yang tidak kita minta, namun telah diberikan oleh Allah SWT. Bahkan yang tidak berdo’a juga sama-sama diberi oleh Allah rejeki. Yang meminta jodoh ada yang belum mendapatkan jodohnya.
Namun, yang tidak minta malah ada yang lebih dari satu. Yang tidak minta anak ada yang dikarunia banyak anak, namun ada yang telah meminta ternyata belum diberi oleh Allah. Jadi do’a itu tidak selalu identik dengan harus terwujud apa yang kita inginkan. Kita berdo’a itu, pertama, sebagai ibadah. Bagi kita, berdo’a akan dikabul atau tidak, Insya Allah tetap jadi amal soleh. Karena apa yang kita minta belum tentu yang terbaik dan belum tentu manfaat.
Maka, kita dikaruniakan bisa berdo’a saja itu sudah rejeki. Do’a itu merupakan dzikir. Do’a itu ibadah. Berdo’a itu tidak mudah, karena tidak semua orang bisa berdo’a. Maka, kalau gara-gara invasi Amerika ke Irak lalu bertambah do’a kita, tentu saja itu rejeki dari Allah sebagai kemenangan tersendiri. Lalu yang kedua, bentuk ijabahnya do’a itu tidak harus sesuai keinginan. Siapa tahu dengan invasi Amerika ini, kita sekarang semakin tahu siasat Amerika yang sebelumnya menyatakan sebagai pahlawan demokrasi dan ditiru di negeri kita. Ternyata demokrasi itu hanya tipuan. Amerika yang selalu memproklamirkan diri sebagai pembela hak azasi manusia, ternyata mereka juga pembunuh.
Sekarang Allah telah membukakan keadaan Amerika yang sebenarnya, yakni Amerika sebagai pelangggar hak Azasi manusia. Dulu kita begitu bangga, namun sekarang Alhamdulillah telah disingkapkan oleh Allah. Ini juga pertolongan Allah. Selama ini mungkin kita terhijab, namun sekarang kita jadi semakin tahu. Dulu kita merujuk ke Amerika, dan sekarang hati kita mulai dibukakan oleh Allah. Pertolongan itu tidak harus dalam bentuk kemenangan peperangan.
Memenangkan peperangan itu bukan berarti memenangkan kehidupan. Kehidupan ini hanya dimenangkan oleh orang yang kuat iman. Karena kalau kita beriman kepada Allah, saat diberi nikmat lalu kita bersyukur, Insya Allah jadi kebaikan. Diberikan musibah lalu kita bersabar, Insya Allah merupakan kebaikan pula. Tidak ada yang kerugian bagi orang beriman. Jika terluka, Insya Allah menggugurkan dosa. Jika terbunuh Insya Allah jadi syuhada.
Jadi, jangan ukur kesuksesan dengan atribut duniawi. Memenangkan peperangan, naik pangkat, berhasil dapat untung besar, semuanya tidak identik dengan ijabahnya do’a. Bahkan bisa jadi merupakan fitnah. Maka, yang harus kita lakukan kini adalah terus-menerus berdo’a. Karena do’a adalah dzikir kepada Allah.
Terserah Allah akan dikabulkan seperti apa, karena memang segalanya milik Dia. Yang penting kita terus istiqomah untuk memperbaiki diri. Terus istiqomah untuk berbuat yang lebih baik. Kemenangan itu adalah bagi orang yang bertaqwa “A'udzubillaahi minasyaithoonirrojiim, Inna Akramakum ‘indallaahi Atqaakum “ Orang yang menang adalah orang yang kokoh iman dan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah SWT. Waallahu A'lam.
