Search This Blog

Monday, March 07, 2005

Kesedihan

Kesedihan Bertemankan Kedalaman Sudah berjalan demikian lama dalam peradaban manusia, di mana kesedihan berdiri sebagai musuh atau penyakit yang menakutkan. Amat dan teramat sedikit orang yang merindukan kesedihan. Stres, sedih, penyakit dan bahkan depresi itulah rekan-rekan yang diyakini dibawa kesedihan setiap kali ia berkunjung. Tidak ada teman lain. Sehingga bisa dimaklumi, kalau kemudian kesedihan duduk dalam kursi musuh yang hanya layak ditakuti. Tentu saja akan menimbulkan perdebatan yang panjang, kalau tiba-tiba secara antagonistis ada yang berucap,
"Kalau kesedihan adalah kawan yang amat menawan."
Terlepas dari perdebatan terakhir, kesedihan memang kerap membawa luka-luka. Salah-salah, kesedihan juga yang bisa membawa manusia tergelincir ke dalam luka-luka jiwa yang menakutkan. Hampir semua manusia yang mengalami luka-luka jiwa awalnya dibukakan pintu oleh kesedihan. Sebutlah luka-luka jiwa yang di permukaan muncul dalam judul gila, perceraian, pembunuhan apalagi peperangan. Kesedihan, kekecewaan dan wajah emosi sejenislah yang menjadi pembuka pintunya. Tentu mudah dipahami kalau banyak orang kemudian menakutinya. Sayangnya, setakut apa pun manusia sama kesedihan, sejauh apa pun manusia lari dari kesedihan, sehebat apa pun alat pelindung yang dimiliki manusia, tidak ada satu pun kekuatan yang bisa membuat manusia absen sepenuhnya dari kesedihan. Datang dan datang lagi, itulah perilaku kesedihan. Entah dia datang untuk tujuan apa pun, kalau saatnya datang, ya, datang. Ada sahabat yang memberi judul kejam akan hal ini, sebab tidak menyisakan pilihan lain. Belajar dari kenyataan dalam bentuk tidak ada pilihan lain inilah, kemudian ada sejumlah penekun kejernihan yang mencoba membuka wajah-wajah lain dari kesedihan. Ternyata, tidak semua wajah kesedihan itu buruk. Sebagian wajah kesedihan malah membukakan pintu-pintu kemuliaan. Dalam kondisi kelelahan mengalami kesedihan, seorang pejalan kaki di dunia kejernihan pernah sampai dalam kesadaran, kalau kesedihan hanyalah petunjuk adanya kedangkalan. Semakin dangkal pemahaman seseorang akan kehidupan, semakin sering kesedihan berkunjung. Makna ini sekaligus memberikan masukan, kesedihan datang untuk menggali dalam-dalam sumur pemahaman. Agak sulit membayangkan ada kedalaman pemahaman akan kehidupan, tanpa melalui perjalanan panjang akan kesedihan. Tanpa kesedihan, meminjam istilah seorang guru, yang tersisa hanya swimologi. Belajar berenang hanya dengan memandang gambar kolam renang. Tentu saja tidak bisa berenang ujungnya. Menyelam dalam di tengah kolam renungan seperti inilah, kemudian mulai ada orang yang berterimakasih akan kunjungan kesedihan. Bukan karena mau gagah-gagahan, sekali lagi bukan. Melainkan karena hanya kesedihan yang bisa memperdalam kolam-kolam pemahaman. Dalam bahasa lain, kesedihan adalah salah satu saklar yang menghidupkan cahaya-cahaya jiwa. Sedih didatangi kesedihan, namun berbekalkan keikhlasan di depan Tuhan, seorang sahabat pernah mengobati kesedihannya dengan berbagi SMS ke sejumlah rekan dekat:
"Kala kesedihan datang, semua melawan. Tatkala ia pergi, sedikit yang menyadari kalau kesedihan adalah hadiah kehidupan."
Tidak sedikit sahabat yang berempati melalui kata terimakasih dalam hal ini. Sebagian bahkan menambahkannya dengan ungkapan-ungkapan pendalaman akan kesedihan. Dengan mengutip sebuah pepatah tua dari Vietnam, seorang sahabat ada yang membalas pesan di atas dengan kalimat menyentuh seperti ini:
"When there is joy, there is suffering. When you want no suffering, you must not accept any joy."
Di mana ada sukacita, di sana ada dukacita. Bila tidak mau dukacita, janganlah menerima sukacita. Anda lihat sendiri, pesan terakhir demikian menyentak. Sukacita dan dukacita memang dua wajah dari mata uang yang sama. Bila mau sukacita, tentu dukacita ikut bersamanya. Bila tidak mau dukacita, maka sukacita pun tidak perlu diundang untuk datang. Tentu saja teramat susah untuk tidak mengundang sukacita. Makan enak, udara segar, istri/suami yang setia, anak-anak yang bersukaria, berkah kehidupan semuanya adalah bahasa-bahasa sukacita. Namun, bukankah sukacita juga membawa dukacita di belakang punggungnya? Dalam peta pemahaman seperti ini, bisa dimaklumi kalau kemudian sejumlah penekun serius kejernihan kemudian mempersedikit frekuensi datangnya sukacita. Ada yang tidur tanpa kasur dan bantal, ada yang hanya makan sampai jam dua belas siang sisanya puasa setiap hari, ada yang hanya mengenakan pakaian seadanya, ada yang tidak pernah memakai sepatu namun hanya sandal jepit, ada yang menjadi vegetarian, ada yang mengorbankan seluruh kehidupan hanya untuk orang lain, dan tentu saja masih ada cara lain. Apa pun caranya, tetap pedomannya satu: mengurangi kedatangan sukacita. Bagi banyak orang biasa, tentu saja sikap seperti ini bisa disebut sebagai sebuah keberanian. Sekaligus cermin kedalaman pemahaman akan kehidupan yang mengagumkan. Ada sahabat yang ragu sambil bertanya,
"Memang ada kebahagiaan yang tersisa dalam kehidupan yang dibimbing kesedihan?"
Inilah susahnya kata-kata. Sehebat-hebatnya kata-kata, ia hanya sampai pada tingkatan swimologi. Dan berenang, hanya bisa dilakukan oleh manusia yang datang ke kolam renang, menceburkan diri, kemudian belajar melalui tangan pertama. Dan kesedihan mendalam yang dialami langsung, bukankah ia sejenis kolam renang yang bisa mematikan bisa juga mencerahkan?

No comments: