Search This Blog

Thursday, March 31, 2005

PBA: Perkawinan Bodoh Amat

Berikut ini kutipan wawancara Ulil-Abshar Abdalla dengan Ahmad Nurcholish, aktivis YISC (Youth Islamic Student Club) Al-Azhar, tentang perkawinannyadengan seorang penganut Kong Hu Chu bernama Ang Mei Yong, di harian Jawa Pos, baru-baru ini.
Mas Ahmad, Anda memutuskan untuk menikah dengan perempuan Konghucu. Apakah Anda yakin pernikahan Anda sah menurut agama Anda?
Ahmad Nurcholish : Ya, pertama-tama, saya berangkat dari asumsi bahwa pernikahan saya sah. Secara teologis, paling tidak menurut apa yang saya pelajari, pernikahan beda agama (PBA) antara laki-laki muslim dan perempuan non-Muslimsah menurut Islam. Yang kedua, saya ingin menguji kebenaran asumsi yang berkembang di masyarakat, yang mengatakan bahwa PBA akan memunculkan banyak konflik atau ditengarai rentan perceraian. Jadi, boleh dikatakan bahwa pernikahan ini merupakan sebuah "eksperimentasi" yang ingin saya buktikan sendiri.
PBA, sebuah singkatan yang mungkin bisa juga menjadi Perkawinan Bodoh Amat.
Bagaimana tidak, alasan yang disampaikan Sang Mempelai Pria adalah melakukan eksperimen alias coba-coba ingin membuktikan apakah kawin beda agama itu berakhir dengan tidak bahagia atau sebaliknya. Kebodohan ini tentunya membuat mereka yang serius dengan institusi perkawinan menjadi sedih atau mungkin juga tertawa terbahak-bahak.
Logikanya di mana?
Pada 1994, Nuryamin Aini, menulis tesis untuk meraih gelar MA di Flinders University, Australia, yang meneliti fenomena PBA ini. Penelitian dilakukan khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta, karena dianggapnya sebagai wilayah melting pot tempat peleburan budaya. Ia mengaku, harus meng-up-date data yang digunakan, karena terjadi fluktuasi.
Pada 1980, paling tidak, terdapat 15 kasus yang menikah beda agama di antara 1.000 pernikahan yang tercatat. Pada 1990, kasusnya naik menjadi 18 kasus dan justru trennya menurun menjadi 12 kasus saja pada 2000. Tren penurunan ini dalam bahasa statistiknya disebut U terbalik.
Pada1980 rendah (15/1.000), lalu naik pada 1990 (19/1.000), kemudian turun lagi pada 2000 (12/1.000). Nampaknya ide campur aduk Ulil dan para pendahulunya dalam memahami kebenaran ternyata semakin tidak populer di kalangan ummat Islam. Boleh jadi memang sengaja dipopulerkan atau dipaksakan untuk menjadi populer, oleh mereka yang memang ingin Islam menjadi agama yang remang-remang.
Kebenaran agama ini dicampur aduk dan akhirnya tampil dalam adonan warna-warni keyakinan dan praktik. Maka PBA sebenarnya adalah salah satu praktek sensasional untuk mempopulerkan adonan hak-batil dalam sebuah institusi perkawinan yang tidak sah secara syar'i.
Kebenaran sebuah praktek keagamaan tidak akan pernah disimpulkan melalui hasil percobaan di lapangan. Perkawinan wanita Muslimah dengan pria non-Muslim yang nampak bahagia tidaklah menjadi ukuran pembenaran hukum agama. Jika ini yang menjadi standar maka suatu ketika kumpul kebo atau bahkan mungkin hubungan "hewan" antara anak-anak manusia, di mana saja dan kapan saja bisa menjadi justified karena ternyata telah diterima secara sosial atau dalam bahasa Ulil telah diterima sebagai "kepatutan umum" dan mungkin dipandang secara lahir membahagiakan pasangan tersebut.
Akankah diterima secara sya'ri hubungan sesama jenis hanya karena telah diterima secara sosial? Seorang putri calon presiden AS dari Partai Republikan ternyata mengaku "Lesbian". Ayahnya mengatakan, kalau memang itu kebahagian anak saya, saya pun ikut bahagia. Kebenaran agama Islam bertolak dari apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan.
Untuk itu, perkawinan antara Muslim dengan wanita non-Ahli Kitab (sebuah kata yang disputable) atau wanita Muslimah dengan pria non-Muslim diharamkan. Itu logika syariat, dan itulah pula standar sah tidaknya sebuah pernikahan.
Pernyataan Sdr. Ahmad Nurchalis sangat gamang, karena mengakui bahwa yang dilarang dinikahi dalam ajaran Islam adalah wanita musyrik. Kalau seorang penganut agama Kong Hu Chu tidak musyrik, siapa lagi yang dikategorikan musyrik dalam Al Qur'an? Pernikahan dalam Islam bukan semata jalinan sosial. Yang lebih penting adalah bahwa pernikahan itu adalah proses suci karena menghalalkan sesuatu yang sebelumnya diharamkan. Namun lebih penting dari semua itu adalah pernikahan merupakan fondasi generasi depan umat. Jika logika Islam seperti ini yang hidup, tentu proses yang akan ditempuh tidak segamang yang ditempuh oleh Ahmad Nurchalis itu.
Tapi kalau tujuannya sekedar untuk meniktmati hubungan suami isteri dan melahirkan anak yang tidak tahu juntrungan masa depan akidahnya, boleh jadi perkawinan itu menjadi masuk akal.
Sayang, seorang Ulil memang memahami penekanan agama pada hadits ini "Wanita dinikahi (mungkin) karena empat motif : kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Tapi dahulukan agama karena itu akan menguntungkan" sebagai agama apa saja. Artinya, Ulil bisa dianggap orang beragama, mungkin Yahudi, Kristen, Kong Hu Chu, Budha, Hindu, dst.
Maka jangan heran, jika agama bagi Ulil tidak punya batasan. Nampaknya, Ulil dan koleganya memang selalu main-main dan cenderung menarik kesimpulan benar salahnya sebuah agama melalui pengalaman manusia (eksperimen) di lapangan. Untuk itu, tidak menutup kemungkinan jika suatu ketika Ulil berpendapat bahwa zina itu tidak lagi haram karena praktek di lapangan membuktikan ternyata zina itu membahagiakan pelacur, menjadi sumber kehidupan, memberantas kemiskinan, serta efek sampingannya, penyakit HIV dan AIDS, telah ditemukan solusinya, dan yang lebih penting telah menjadi "kepatutan umum" (public decency) Lalu di mana "nurani" dan "logika" mereka dalam memahami agamanya?

Tuesday, March 29, 2005

SIAPAKAH ?

Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah.............. dan bersegeralah!
Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berucap "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Kemudian berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar...............
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah....... Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki...........
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.Maka hargailah waktumu dan bersegeralah..............
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda.............................
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan dimana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang. Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu...............
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia............
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya..............
Siapakah org yg PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan atau membuang email ini begitu saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain. Maka sampaikanlah kepada yang lain sedikit berita gembira ini selagi sempat, karena tiada ruginya

Thursday, March 24, 2005

Putus Asa???

"Jangan putus asa jika otak tumpul dan kurang cerdas. Kadang - kadang seorang yang tumpul otaknya tetapi tidak putus asa lebih maju daripada seorang yang cerdas tetapi pemalas".

-Hamka-

Monday, March 21, 2005

MANAGEMENT STRESS

Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut. -Stephen Covey-

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya : "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.
Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa.
Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

Start the day with smile and have a good day........

Tuesday, March 15, 2005

Jadi Leader Setelah Kuat di Ethical

Betadine Antiseptic meraih kepercayaan konsumen setelah kurang lebih 20 tahun bergerak di ethical. Ketika dilepas ke mass market, produk asal Switzerland itu langsung menguasai pasar.

Boleh jadi keberuntungan seperti yang dialami Betadine Antiseptic sulit ditemukan pada produk-produk lain. Hal itu bermula dari keputusan pemerintah yang melarang peredaran Obat Merah (cairan untuk mengobati luka) di pasaran setelah ditemukan komposisi yang membahayakan konsumen. Ada zat yang bisa menyebabkan kanker kulit. Padahal, Obat Merah hingga tahun 1990-an sudah menguasai pasar. Konsumen, tentu saja memerlukan penggantinya. Betadine Antiseptic memanfatkan kesempatan itu untuk menduduki posisi Obat Merah.

Kebetulan, produk yang lisensinya dibeli dari Dr Mundipharma AG, Switzerland itu sudah punya image kuat sebagai obat yang direkomendasi para dokter. Image itu diraih setelah 12 tahun bermain di ethical—yakni lewat dokter, rumah sakit dan klinik-klinik sebagai jalur pemasaran. “Begitu masuk ke OTC (over the counter), konsumen langsung percaya Betadine itu bagus. Jadi kami lebih mudah masuknya,” kata Roby Muljadi, Group Marketing Manager PT Mahakam Beta Farma.

Betadine mulai melakukan penetrasi ke pasar nasional tahun 1977 lewat PT Daya Muda Agung. Saat itu masih bersifat “maklon” alias membeli produk yang kemudian dikemas dan disistribusikan oleh pembelinya. Lalu, pada 1980 didirikanlah PT Mahakam Beta Farma yang menjadi subsidiari PT Daya Muda Agung. Dari sinilah kemudian Betadine diproduksi sendiri dengan tetap mengambil lisensi dari Mundipharma.

Pergerakan Betadine dari ethical bermula dari keterbatasan bujet. Maka, konsentrasinya saat itu hanya lewat dokter, rumah sakit dan klinik-klinik, yang mengandalkan tenaga medical representative. Meski begitu, penetrasinya sudah cukup kuat dan menjangkau Jawa, Medan, dan Ujung Pandang. Baru pada 1989, setelah dirasa kuat, Betadine mulai di OTC-kan. Berbarengan dengan itu, iklan pun mulai digarap di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

Tanggapan konsumen ternyata positif. Rupanya, sebagain besar konsumen sudah tahu produk tersebut lewat komunikasi mouth to mouth ketika Betadine masih menggarap ethical. Dua tahun setelah melebarkan sayap ke OTC, keberuntungan terbesar pun datang. Sekitar tahun 1991, pemerintah mengeluarkan larangan peredaran Obat Merah. Momentum itu dipergunakan Betadine untuk berpromosi secara gencar di televisi swasta, yang saat itu baru ada dua: RCTI dan SCTV.

Hasilnya, Betadine menjadi pengganti posisi Obat Merah dan meraih seluruh pasar obat tersebut. Apalagi dalam tempo kurang dari dua tahun, distribusi Betadine sudah merambah ke warung-warung. Menurut Roby, saat itu perolehan market share Betadine langsung melonjak mencapai 40-50%. “Kami jadi market leader pada saat adanya larangan pemerintah terhadap Obat Merah. Betadine langsung meraih market share dari obat merah,” kata Roby.

Andalkan PR
Pemain obat luka sebenarnya cukup padat. Jumahnya pernah mencapai 33 brand yang bisa ditemukan di berbagai tempat. Mereka memperebutkan pasar obat luka yang mencapai Rp70 miliar per tahun. Tetapi, malangnya, sebagian tidak mampu bertahan dan kemudian dimatikan. Umumnya, para pemain tersebut berkonsentrasi memperkuat basis di daerah-daerah tertentu. Pemain yang relatif kuat antara lain Stardine, Unidine, dan Hexidine. Akan tetapi, merek-merek tersebut hanya memperebutkan 10% pangsa pasar. Sisanya, 90% sudah dikuasai Betadine yang 82% pangsanya dikontribusi dari OTC.

Meski jadi pemimpin, Betadine mengaku tidak mau jorjoran membombardir pasar dengan kegiatan komunikasi. Prinsip yang dianutnya simpel, komunikasi harus efektif. Karenanya, sekarang ini, ketika awareness Betadine sudah sangat tinggi, komunikasi lebih diarahkan kepada kegiatan public relations. Kegiatan PR itu pun tetap diarahkan ke rumah sakit untuk mempertahankan image yang sudah mereka miliki. Caranya, dengan terus memperkenalkan teknologi melalui endorsement yang selalu mengarah kepada anjuran para dokter. “Jadi ending-nya pasti ada dokternya,” kata Roby.

Kegiatan PR rutin lainnya selalu disesuaikan dengan momentum yang ada seperti Tahun Baru, 17 Agustus-an dan momen-momen bencana. Betadine baru beriklan jorjoran kalau mengeluarkan produk baru seperti Betadine Kids yang diluncurkan tahun lalu. “Kalau produk baru, kami full effort. TVC kami jalan, radio, dan media cetak. Kegiatan below the line (BTL) pun kami jalankan,” paparnya.

Sebagai market leader, harga yang dipatok disesuaikan dengan image yang telah diraih terhadap merek tersebut. Rata-rata, harga Betadine di pasaran 100% lebih tinggi dibandingkan dengan merek-merek lain. “Kalau kompetitor harganya Rp1.000, Betadine Rp2.000,” tandas Roby. (Rofian Akbar & Tajwini Jahari, Majalah Marketing).

Monday, March 07, 2005

Kesedihan

Kesedihan Bertemankan Kedalaman Sudah berjalan demikian lama dalam peradaban manusia, di mana kesedihan berdiri sebagai musuh atau penyakit yang menakutkan. Amat dan teramat sedikit orang yang merindukan kesedihan. Stres, sedih, penyakit dan bahkan depresi itulah rekan-rekan yang diyakini dibawa kesedihan setiap kali ia berkunjung. Tidak ada teman lain. Sehingga bisa dimaklumi, kalau kemudian kesedihan duduk dalam kursi musuh yang hanya layak ditakuti. Tentu saja akan menimbulkan perdebatan yang panjang, kalau tiba-tiba secara antagonistis ada yang berucap,
"Kalau kesedihan adalah kawan yang amat menawan."
Terlepas dari perdebatan terakhir, kesedihan memang kerap membawa luka-luka. Salah-salah, kesedihan juga yang bisa membawa manusia tergelincir ke dalam luka-luka jiwa yang menakutkan. Hampir semua manusia yang mengalami luka-luka jiwa awalnya dibukakan pintu oleh kesedihan. Sebutlah luka-luka jiwa yang di permukaan muncul dalam judul gila, perceraian, pembunuhan apalagi peperangan. Kesedihan, kekecewaan dan wajah emosi sejenislah yang menjadi pembuka pintunya. Tentu mudah dipahami kalau banyak orang kemudian menakutinya. Sayangnya, setakut apa pun manusia sama kesedihan, sejauh apa pun manusia lari dari kesedihan, sehebat apa pun alat pelindung yang dimiliki manusia, tidak ada satu pun kekuatan yang bisa membuat manusia absen sepenuhnya dari kesedihan. Datang dan datang lagi, itulah perilaku kesedihan. Entah dia datang untuk tujuan apa pun, kalau saatnya datang, ya, datang. Ada sahabat yang memberi judul kejam akan hal ini, sebab tidak menyisakan pilihan lain. Belajar dari kenyataan dalam bentuk tidak ada pilihan lain inilah, kemudian ada sejumlah penekun kejernihan yang mencoba membuka wajah-wajah lain dari kesedihan. Ternyata, tidak semua wajah kesedihan itu buruk. Sebagian wajah kesedihan malah membukakan pintu-pintu kemuliaan. Dalam kondisi kelelahan mengalami kesedihan, seorang pejalan kaki di dunia kejernihan pernah sampai dalam kesadaran, kalau kesedihan hanyalah petunjuk adanya kedangkalan. Semakin dangkal pemahaman seseorang akan kehidupan, semakin sering kesedihan berkunjung. Makna ini sekaligus memberikan masukan, kesedihan datang untuk menggali dalam-dalam sumur pemahaman. Agak sulit membayangkan ada kedalaman pemahaman akan kehidupan, tanpa melalui perjalanan panjang akan kesedihan. Tanpa kesedihan, meminjam istilah seorang guru, yang tersisa hanya swimologi. Belajar berenang hanya dengan memandang gambar kolam renang. Tentu saja tidak bisa berenang ujungnya. Menyelam dalam di tengah kolam renungan seperti inilah, kemudian mulai ada orang yang berterimakasih akan kunjungan kesedihan. Bukan karena mau gagah-gagahan, sekali lagi bukan. Melainkan karena hanya kesedihan yang bisa memperdalam kolam-kolam pemahaman. Dalam bahasa lain, kesedihan adalah salah satu saklar yang menghidupkan cahaya-cahaya jiwa. Sedih didatangi kesedihan, namun berbekalkan keikhlasan di depan Tuhan, seorang sahabat pernah mengobati kesedihannya dengan berbagi SMS ke sejumlah rekan dekat:
"Kala kesedihan datang, semua melawan. Tatkala ia pergi, sedikit yang menyadari kalau kesedihan adalah hadiah kehidupan."
Tidak sedikit sahabat yang berempati melalui kata terimakasih dalam hal ini. Sebagian bahkan menambahkannya dengan ungkapan-ungkapan pendalaman akan kesedihan. Dengan mengutip sebuah pepatah tua dari Vietnam, seorang sahabat ada yang membalas pesan di atas dengan kalimat menyentuh seperti ini:
"When there is joy, there is suffering. When you want no suffering, you must not accept any joy."
Di mana ada sukacita, di sana ada dukacita. Bila tidak mau dukacita, janganlah menerima sukacita. Anda lihat sendiri, pesan terakhir demikian menyentak. Sukacita dan dukacita memang dua wajah dari mata uang yang sama. Bila mau sukacita, tentu dukacita ikut bersamanya. Bila tidak mau dukacita, maka sukacita pun tidak perlu diundang untuk datang. Tentu saja teramat susah untuk tidak mengundang sukacita. Makan enak, udara segar, istri/suami yang setia, anak-anak yang bersukaria, berkah kehidupan semuanya adalah bahasa-bahasa sukacita. Namun, bukankah sukacita juga membawa dukacita di belakang punggungnya? Dalam peta pemahaman seperti ini, bisa dimaklumi kalau kemudian sejumlah penekun serius kejernihan kemudian mempersedikit frekuensi datangnya sukacita. Ada yang tidur tanpa kasur dan bantal, ada yang hanya makan sampai jam dua belas siang sisanya puasa setiap hari, ada yang hanya mengenakan pakaian seadanya, ada yang tidak pernah memakai sepatu namun hanya sandal jepit, ada yang menjadi vegetarian, ada yang mengorbankan seluruh kehidupan hanya untuk orang lain, dan tentu saja masih ada cara lain. Apa pun caranya, tetap pedomannya satu: mengurangi kedatangan sukacita. Bagi banyak orang biasa, tentu saja sikap seperti ini bisa disebut sebagai sebuah keberanian. Sekaligus cermin kedalaman pemahaman akan kehidupan yang mengagumkan. Ada sahabat yang ragu sambil bertanya,
"Memang ada kebahagiaan yang tersisa dalam kehidupan yang dibimbing kesedihan?"
Inilah susahnya kata-kata. Sehebat-hebatnya kata-kata, ia hanya sampai pada tingkatan swimologi. Dan berenang, hanya bisa dilakukan oleh manusia yang datang ke kolam renang, menceburkan diri, kemudian belajar melalui tangan pertama. Dan kesedihan mendalam yang dialami langsung, bukankah ia sejenis kolam renang yang bisa mematikan bisa juga mencerahkan?

Friday, March 04, 2005

Laksana Ragam Bunga

Lihatlah betapa indahnya taman bunga. Beragam jeniswarna dan bau wewangian ada di sana. Ada yang merah,putih, kuning, ungu, dan lain sebagainya. Ada pulayang besar namun banyak juga yang kecil. Semuanya mempesona untuk menghiasi dunia. Betapa Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan dengan menciptakan taman bunga justru dari beragam hal-hal yang berbeda.Berpadu menyemburatkan nuansa indah, menggoda mata untuk meliriknya.
Coba pula amati keindahan kuntum bunga yang sedang berkembang. Mekar mewangi menengadahkan kelopaknya kelangit. Dengarlah simfoni alam yang mengalunkan tasbih dan tahmid, tatkala bulir-bulir embun di ujung daun jatuh ke tanah. Rasakan juga kelembutan sinar mentari yang diselingi tiupan semilir angin. Indah... Semua begitu indah mempesona. Mengalunkan untaian senandung kesyukuran kepada Sang Pencipta. Hmm... Bukankah kehidupan kita pun laksana ragam bunga ditaman? Penuh dengan segala fitrah perbedaan. Namun itulah yang membuat hidup ini menjadi penuh warna dan makna. Bahkan, mestinya sebuah perbedaan justru harusmenjadi pelajaran.
Tentang bagaimana kita menghadapi,dan memetik hikmah dari semua perbedaan yang terjadi. Namun sayang... Terkadang kita semua bukanlah laksana taman bunga yang dengan segala perbedaannya menimbulkan keindahan.Masing-masing kita seumpama sekuntum bunga yang ingin menyeruak sendirian. Berupaya agar kuntumnya saja yangterlihat cantik, indah dan menawan. Padahal, andaikan semua kuntum bunga itu mekar bersama, tentu akan menimbulkan keindahan yang lebih menakjubkan. Betapa di zaman sekarang ini umat Islam sedang dalam kehinaan, sedangkan kita masih saja larut dengan kesibukan mempermasalahkan perbedaan khilafiyah.Bahkan, tak jarang hingga melepaskan ikatan tali persaudaraan.
Kadang kita pun lupa dengan saudara kitasendiri yang juga berjuang untuk kemuliaan Islam.Buruk sangka dan saling menjatuhkan, sehingga yangterjadi adalah perpecahan.Sesungguhnya, ide dan gagasan dakwah yang beragam itu adalah kekuatan. Semua akan menjadi sebuah gerakan terorganisir, rapih, solid dan militan yang insyaAllah merubah kondisi ummat hingga tak ada lagi fitnah atas Islam. Menciptakan sebuah taman yang indah, dari beragam bunga, sehingga bukan kita saja yang menikmatinya. Namun, akan menjadi taman bunga yang mengundang semua orang dari segala penjuru dunia untuk bersama menikmati keindahannya. Bukankah seorang mujahid Islam, Hasan al-Banna, pun pernah mengatakan bahwa perbedaan itu bukanlah suatukemustahilan. Tetapi yang diharapkan, walaupun mempunyai kepentingan sendiri, jangan sampai menutupi kepentingan bersama untuk menegakkan qalam ILlahi dimuka bumi. Antum ruhun jadidah tarsi fi ja-sadil ummah! Kitalah ruh dan jiwa baru itu. Yang mengalir di tubuh ummat, menghidupkan tubuh yang mati dengan al-Qur'an.Siap menjadi anak-anak panah yang dilepaskan dari sebuah busur, pedang-pedang tajam untuk menebas musuh, atau laksana dahsyatnya butir peluru yang ditembakkan dan melaju.Wujudkan seluruh kemampuan untuk kemuliaan Islam hingga jihad fi sabiliLlah menemui kita. Karena setiapdirimu pun laksana sekuntum bunga dari sekian banyak ragam bunga di dunia. Tumbuh dan mekarlah dengan khas wewangian-mu. Sirami selalu dengan aqidah dan akhlak terbaik, hingga tiba saatnya kita bersama menghiasi dunia ini dengan keindahan ajaran Islam. Kemenangan yang dijanjikan itu akan tiba, percayalah!
Semoga tak akan ada lagi di antara kita yang merasa jamaahnya saja yang terbesar, paling benar, terbanyak pengikutnya atau telah banyak berbuat untuk Islam.Siapkan diri, rapatkan barisan, luruskan shaf, rajut ukhuwah Islamiyah di antara kita. Siapapun engkau, apapun namanya dirimu, jangan pedulikan. Karena yang terpenting kita semua adalah bunga-bunga Islam yang siap sedia menyebarkan wanginya ke segala penjuru dunia. Galang persatuan dan kesatuan, bersama tegakkan Al-Islam. Allahu Akbar!!! WaLlahu a'lamu bish-shawaab.

Thursday, March 03, 2005

Menjadi orang yang berwibawa

Menjadi orang yang berwibawa bukanlah perkara mudah, namum sesungguhnya jika kita sanggup memiliki sikap ini, terutama bagi pemimpin, akan lebih mudah dalam berinteraksi dengan orang lain. Berikut ini beberapa prinsip yang harus dilakukan jika ingin mempunyai sikap berwibawa,
Pertama, harus sesuai apa yang dibicarakan dengan yang diperbuat. Artinya, kita hanya berbicara, menganjurkan sesuatu yang telah kita perbuat saja. Kalaupun kita sendiri belum melaksanakan, disiplin misalnya, sebaiknya kita tidak menyuruh orang lain untuk disiplin dulu. Akan jauh lebih baik, jika kita segera berlatih disiplin, tunjukkan saja kegigihan kita. Kadang, menyuruh orang lain dengan perbuatan bisa jauh lebih efektif ketimbang menyuruh dengan lisan. Apalagi, dalam Al-Qur'an, Allah telah menegaskan tentang betapa besarnya murka Allah bagi orang yang berkata sesuatu yang tidak diperbuatnya. Begitupun Rasulullah saw, beliau adalah orang yang sungguh sesuai apa yang diucapkan dengan yang diperbuatnya.
Kedua, tidak banyak melakukan kesalahan.Orang yang kerap melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang menyebabkan akan turun kewibawaannya.Orang seperti ini tidak mau belajar dari kesalahan, tidak peduli meski melakukan kesalahan yang berulang. Orang lain pun, akan menilai negatif kepadanya, dan boleh jadi tidak mempercayainya lagi untuk mengerjakan hal tersebut. Sehingga, jika ingin menjadi orang yang berwibawa, jangan pernah bosan belajar dari kesalahan. Kesalahan itu manusiawi, wajar, dan pasti dimaklumi. Namun jika terjadi berulang-ulang, dan tidak memperbaiki diri, niscaya orang menjadi tidak percaya. Tentu akan jatuh wibawanya.
Ketiga, orang juga akan jatuh wibawanya jika terbongkar aibnya. Misalnya, sudah gaya, pejabat, tapi ternyata ijazahnya palsu. Terbukanya aib sungguh merupakan alat ampuh untuk meruntuhkan kewibawaan seseorang. Jadi, memiliki track record yang baik adalah sangat penting dan harus dimiliki setiap diri. Kalau sudah ada cacat dalam track record, kita harus bersusah payah untuk membangun kepercayaan orang kembali. Sehingga, jangan pernah mencoba-coba melakukan kesalahan besar yang fatal, karena kalau tidak sekarang, kelak mesti dapat terbuka. Bukankah Allah berkuasa membuka aib setiap manusia ? Kalaupun terlanjur, pintu taubat tentu masih akan terbuka lebar, kalau kita sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Dan, Semoga Alloh mengampuni kita, Amiin.
Terakhir, teruslah berupaya berahklaq mulia. Karena, orang bisa runtuh wibawanya kalau akhlaqnya, prilakunya kurang baik. Siapapun tentu akan lebih suka berinteraksi dengan orang yang berahklaq baik. Untuk itu, setiap hari teruslah perbaiki akhlaq kita, tidak hanya manfaat untuk orang lain, bagi diri sendiri tentu akan berguna pula.
Sumber majalah Swadaya DPU-DT edisi April 2004

Info Software Al-Quran (free)

Untuk anda yang membutuhkan Al-Quran dalam bentuk software (english and arabic).. bisa anda download secara free di www.divineislam.com saya sudah mencoba dan menggunakannya... semoga informasi ini bermanfaat. Amien