Search This Blog

Monday, December 20, 2004

Al Wasyi’ - Yang Maha Luas

Aa Gym

Bismillaahirrahmanirrahiim,
Semoga Allah Yang Maha Luas memberikan hidayah kepada kita untuk faham akan kelapangan sehingga menjadi lebih faham akan hidup ini. Karena uang yang tidak luas susah sedekahnya, pikiran yang sempit mudah putus asa.
Rekan-rekan sekalian, kita akan membahas salah satu asma Allah Al Wasyi'. Al Wasyi' artinya dalam bahasa yang sederhana adalah Allah Yang Maha Luas. Kalau saya ambil kutipannya, terambil dari akar kata Waw, Sin dan 'in yang maknanya berkisar kebalikan dari sempit, kebalikan dari sulit. Jadi Allah Al Wasyi'. Allah Maha Luas, Maha lapang, Maha Kaya, Maha Mampu. Alam semesta yang begini luasnya, Allah lebih luas dari apa yang Dia ciptakan. Allah tidak dibelenggu oleh tempat. Kalau Allah ada disuatu tempat yang kita bayangkan, maka tempat lebih besar dari pada Allah. Sedangkan Allah SWT Laysa kamis lihi syai'un - Tidak menyerupai dan diserupai apapun. Jadi Ilmu Allah menyelimuti segala sesuatu. Karena Maha Luas, maka meliputi apa saja. Pengetahuan Allah Maha Luas, mengetahui apa saja. Allah Maha Luas Rizkinya meliputi apa saja dalam genggaman Allah. Orang-orang yang yakin kepada Maha Luasnya Kekuasaan Allah berarti tidak ada satupun di alam semesta ini yang luput dari genggaman Allah. Virus Sars yang menggemparkan, kenapa mesti takut. Virus Sars adalah ciptaan Allah SWT. Hidupnya oleh Allah dan kena kepada siapa yang dikehendaki Allah. Kekuasaan Allah meliputi virus sars, maka jangan takut oleh sars. Karena orang mati karena tabrakan lebih banyak. Yang mati karena mencret lebih banyak. Yang harus kita takutkan justru virus iman yang lebih mencelakakan. Orang terkena sars belum tentu su'ul khatimah. Tidak sedikit orang yang tadinya sehat tetapi matinya nista. Na'udzubillahi mindalik. Jadi kita harus menjaga untuk bisa mengambil hikmah. Saya kira sudah standart kita ingin rumah yang luas. Kalau rumah kita kecil, penghuninya banyak peluang bertengkar. Kalau mau masuk kemudian bersinggungan marah. Kalau mau tidur, tempat tidur sempit, sehingga geser ke sini yang pinggir terguling. Jalan yang sempit membuat macet. Kita harus senang kepada keluasan. Ilmu yang luas bijak, rizki yang luas enak. Kalau rizki sempit sedekah susah.
Sahabat sekalian kita harus berjuang sekuat tenaga menjadi orang berwawasan luas. Kalau orang wawasannya sempit mudah emosi. Banyak orang yang menganggap keluasan rizki harta itu terpenting, ternyata tidak. Rizki harta itu penting, kalau dengan wawasan yang luas. Maka rekan-rekan sekalian berangkat pengajian kita mengeluarkan ongkos, ini bukan pengeluaran. Apapun yang membuat pengalaman, wawasan, ilmu bertambah, itu bukan pengeluaran tetapi investasi. Orang yang berwawasan luas sibuk memikirkan yang menggenggam alam semesta, tetapi orang yang punya harta dan wawasannya tidak luas, tidak mengerti apa arti hidup ini. Ketika mempunyai keinginan untuk bahagia, kita harus berusaha mencari harta dan memperluas wawasan.
Sesuatu yang sederhana, bahan sederhana, teknologi sederhana, maka manfaatnya juga sederhana. Tetapi teknologi yang canggih, bahan bagus, walaupun bentuk sederhana, karena berasal dari kecanggihan teknologi, keunggulan bahan, maka hasilnya tidak akan sederhana dan akan canggih. Ada orang yang hidup sederhana, karena memang inputnya sederhana, diamnya tidak mengerti apa-apa. Tetapi ada ada orang yang banyak ilmu, luas wawasanya, diamnya saja mempunyai arti. Bicaranya sederhana, maknanya luas dan dalam, itulah buah dari luasnya wawasan. Rekan-rekan kita berharap hidup lebih indah, bergairah karena luas wawasan.
Bagaimana melapangkan qolbu ? Kuncinya jangan mendramatisir masalah-masalah kecil. Ingin menikmati hidup jangan terpancing emosional dari perkara-perkara remeh. Yassiru wala tu'asyiru. Mudahkan jangan dipersulit. Jadi jangan mudah tersinggung , mendramatisir, dan mempersulit hidup, maka akan bahagia. Jadilah pemaaf, Fainta'fu watasfahu watafqifim Fainallaha ghafururrahiim. Kalau kita senang ikhlas, senang memaafkan orang, ampunan dan kasih sayang Allah akan datang. Kapan kita berprestasinya jika setiap masalah dijadikan lebih ruwet. Setiap urusan kita kembalikan kepada Allah, maka urusannya akan menjadi ringan. Wadhkurullaha la'allakum tuflikhun. Marilah kita lapangkan pikiran, jangan dipersulit. Kita lapangkan wawasan kita, kita lapangkan hati kita dengan tidak mempersulit diri dan menjadi pemaaf dengan memperbanyak dzikir.
Alhamdulillaahirobbil’alamin

Sumber: Buletin InfoDT Jakarta - No.17/Tahun IV/Desember 2004

Monday, December 13, 2004

Kredibilitas

PERTAMA : "Aku Harus Jujur Yang Terbukti dan Teruji"
Aku menyadari bahwa kejujuran adalah perilaku kunci yang sangat efektif untuk membangun kredibilitas atau bahkan sebaliknya menghancurkanku.Karenanya aku tidak akan sekali-kali berbohong atau terpancing untuk menambah omongan sehingga menjadi dusta walau dengan gurauan sekalipun. Aku hanya akan mengatakan yang aku yakini kebenarannya.Aku tidak akan pernah mengingkari janji, aku pastikan setiap janji yang kuucapkan sudah aku perhitungkan matang-matang, dan aku akan berusaha dengan keras untuk memenuhi janji itu walaupun harus berkorban banyak hal.Aku akan tepat waktu dalam segala hal, tidak akan terlambat ataugemar menunda-nunda atau bahkan mengakhirkan padahal banyak kesempatan.Akan kubiasakan untuk mempunyai fakta dan data yang jelas, bersikap terbuka serta tidak bertindak sembunyi-sembunyi atau menyembunyikan banyak hal (tentu saja kekecualian pada hal-hal yang menurut agama patut disembunyikan)Aku harus pula memiliki kemampuan untuk mengevaluasi diri,memperbaiki dan bertanggung jawab dengan tulus terhadap apapun yang terjadi sehingga akan menjadikan pancaran yang akan turut menghapuskan kesalahan yang pernah kulakukan.Aku tidak akan pernah patah semangat dan berputus asa, peluang untuk berubah sangat luas namun semua butuh proses, percayalah ALLOH Maha Pemberi Jalan dan sangat mudah baginya untuk memuliakan atau menjatuhkan siapapun.

KEDUA : "Aku Harus Cakap"
Aku menyadari bahwa walaupun kejujuran sudah teruji dan terbukti tapi apabila lalai dalam melaksanakan tugas, tetap akan merontokkan kredibilitasSehingga Aku menyadari sangatlah penting untuk memiliki selera dan tradisi berbuat, berkarya dengan semaksimal mungkin tidak hanyasesuai target bahkan kalau bisa lebih dari target.Untuk menjadi cakap aku tahu kuncinya, yaitu harus melatih diri, mengembangkan kemampuan wawasan dan keterampilan secara kontinyu dan sistematis sehingga memiliki kesiapan memadai.Setiap melakukan sesuatu aku mengawali segalanya dengan perencanaan yang baik karena perencanaan yang gagal berarti sama dengan merencanakan gagal.
Mottoku
"LEBIH BAIK BERSIMBAH KERINGAT dalam latihan, daripada BERSIMBAH DARAH DALAM PERTEMPURAN".
Aku selalu melakukan check and recheck. Hal ini agar kesempatan untuk melakukan kesalahan dapat aku minimalkan.Segala sesuatu harus aku lakukan dengan kesungguhan, hati-hati dan cermat. Jangan menganggap remeh kelalaian dan kecerobohan karena ini adalah biangnya kesalahan dan kegagalan.Dalam setiap tahapan aku harus mengevaluasi diri sebagai kontrol agar aku tidak kebablasan dalam melakukan kesalahan. Percayalah merenung sejenak akan membuat karyaku semakin bermutu. Aku harus menyempurnakan amal, karena itu merupakan kenikmatan.Sekali lagi akan aku nikmati menyempurnakan apa yang bisa kulakukan. Jikalau aku tergelincir melakukan kesalahan secara sengaja atau tidak sengaja maka aku tidak akan rontok seakan-akan habislah segala-galanya. Ingatlah kalau nasi sudah menjadi bubur, pola pikirku adalah menjadikan bubur itu menjadi bubur ayam spesial.

KETIGA : " Aku Harus Inovatif "
Aku menyadari bahwa segala sesuatu yang ada akan berubah, di duniaini tidak ada satu pun yang tidak berubah, satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Maka Aku siapkan diri untuk mengikuti perubahan, karena jikalau aku tidak bisa mengimbanginya, akan tergilaslah Aku oleh perubahan itu.Amatlah rugi bagiku jika hari kemarin sama dengan hari ini, celakalah aku apabila hari ini lebih buruk dari kemarin, ini berarti aku akan tertinggal jauh dan sulit mengejar orang lain yang komit dengan perubahan.Untuk bisa inovatif aku senantiasa banyak membaca dan menulis, sehingga kumiliki perpustakaan pribadi, kusediakan dana untuk membeli bahan bacaan, dan kuluangkan waktu untuk membacanya.Akupun harus banyak berdiskusi dan membaca, caranya dengan kucari dan kumiliki banyak teman dari berbagai disiplin ilmu dan kubiasakanuntuk terus mendapatkan masukan, baik dengan bertanya atau mendengarkan.Dan kuusahakan pula memiliki progaram silaturahim secara berkala dan terpola, sehingga perkembangan kemampuanku akan semakin terukur. Akupun harus banyak melihat dan mengadakan studi banding (benchmark). Kunjunganku baik resmi ataupun tidak adalah ketempat yang dapat menambah wawasan, memancing inspirasi, membuka visi baru, yang pasti nuansa-nuansa baruakan sangat membantu membangkitkan potensi yang lama terpendam.Kumiliki waktu luang untuk merenung dan bertafakur tanpa mengganggu kegiatan rutinku. Kucari tempat yang nyaman, kupilih waktu yang tepat. Bagiku sebagai Ummat Islam, ALLOH telah menyediakan tempatnya yaitu tahajjud, dengan simbahan air wudlu, kemudian sujud dan menyerahkan diri. Hal ini berdampak sekali bagiku dalam pengevaluasian langkah yang lebih tepat ke depan.Akupun harus banyak berbuat dan mencoba. Ku tidak pernah takut untuk mencoba. Guru terbaik bagiku adalah pengalaman.Akupun harus banyak beribadah dan berdoa. Aku sadar bahwa penguasa segala sesuatu adalah ALLOH Azza wa Jalla.Sungguh kapanpun akan mati aku telah siap dengan segala sesuatunya setelah aku berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk ALLOH, insya Allah semoga apa yang telah kulakukan DAPAT BERMAKNA BAGI DUNIA dan BERARTI AKHIRAT NANTI.

Thursday, November 25, 2004

Hati Yang Senantiasa Merasakan Ramadhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shaleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat kejahatan, maka (dosanya) atas dirinya ; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba(Nya). (QS. Fushshilat 41:46)
Segala Puji Bagi Allah Swt seluas langit dan dunia serta apa yang ada sesudahnya. Syalawat dan salam pada junjungan kita Rasulullah Saw, keluarganya, para sahabatnya serta seluruh kaum muslimin dan muslimat di muka bumi ini.
Sahabatku tercinta rahimakumullah..,Bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita. Malam yang lebih baik dari seribu bulanpun tak akan lagi kita temukan, apakah dengan berakhirnya semua itu kita akan merasa kehilangan gairah untuk beribadah?!...
Tidak sahabat! sekali-kali tidak!. Ramadhan boleh hilang, namun hati kita akan senantiasa menikmatinya.
Saat berpuasa, dimana lapar dan dahaga menyesak dada, kita bisa merasakan betapa sakitnya penderitaan mereka yang kekurangan. Timbul rasa kasihan untuk menolong, memberikan sebahagian apa yang kita punya untuk mereka. Betapa nikmatnya bukan?! karena saat-saat seperti itu kita merasakan Allah begitu dekat di sisi kita. Karena itu kita tergugah untuk melanjutkannya dengan berpuasa selama 6 hari di bulan syawal, dan Senin Kamis di hari-hari mendatang. (Sesuai kadar kesanggupan kita) Bagi yang masih mempunyai hutang, akan lebih baik segera membayar.
Shalat Tarawih, akan terus kita lakukan dengan Qiyamul lail (tahajud) untuk memperkuat jiwa. Jangan lupa untuk menjaga setiap shalat kita.
Zakat, infak dan sedeqah. Dalam harta kita ada hak orang lain. Apa yang kita nafkahkan semata-mata karena Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Tidakkah kita ingin mendapatkannya?!.. Hati akan tenang jika senantiasa menabung untuk bekal pulang. Tak ada insan yang jatuh miskin karena menafkahkan hartanya.
Tilawah Qur'an akan terus kita lanjutkan. Sebab ia adalah kitab petunjuk dalam mengharungi samudra kehidupan. Al Qur'an juga merupakan shifa (obat) penentram hati, berisi peringatan dan ancaman bagi manusia dan alam semesta ini.
Menjaga diri dari perbuatan yang keji, menjaga makanan agar jasad dan ruhani tetap bersih, dan menyambung tali siraturrahmi. Sebagaimana Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang pada hamba-hamba-Nya, sudah sepatutnya kita saling memaafkan (berlapang dada) pada mereka yang pernah menyakiti kita.
Sungguh nikmat bukan? nikmat karena hati yang senantiasa merasakan Ramadhan. Nikmat merasa hidup dekat dengan Tuhan. Bukankah ini yang dicontohkan Rasulullah? Ibadah Ramadhan adalah cerminan akhlak Beliau setiap harinya.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al Ahzab 33:21)
Wahai Ummul mu'minin, kabarkanlah kepada kami tentang akhlak Rasulullah Saw. Aisyah berkata: Bukankah engkau pernah membaca Al Qur'an?. Jawab: Ya, Kata Aisyah: Akhlak Nabi Allah itu adalah Al Qur'an. (HR. Muslim)
Masa tinggal kita cuma sebentar, Sahabat..,Jikalau sisa-sisa usia ini tak mampu kita nikmati, betapa ruginya diri. Semoga Allah meridhai segala apa yang kita lakukan, Semoga kita bisa menatap wajah-Nya di hari yang telah dijanjikan, aamiin ya Rabbal 'aalamiin.
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shaleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (QS. Al Jaatsiyah 45:15)

Tuesday, October 26, 2004

Hakekat Do'a

Sumber: Manajemen Qolbu Online [Kajian Bening Hati - Kajian Hikam]
Oleh : Aa Gym

Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin. Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Kini, kita lihat sepertinya Amerika telah merasa menang terhadap Irak. Padahal rasa-rasanya ummat Islam sudah banyak berdo’a. Siang dan malam kita pun turut prihatin dengan keadaan di Irak. Namun, kalau kita lihat di TV sepertinya do’a kita tidak di ijabah. Jika ada sebuah pertanyaan, kenapa Allah tidak mengabulkan do’a? Sudah begitu jelekkah ummat Islam sehingga do’anya tidak dikabulkan ? Sebetulnya berbeda urusannya, antara kita berdo’a dengan dikabulkannya do’a tersebut.
Karena kita diperintah berdo’a oleh Allah, sedangkan mengabulkan itu adalah Kehendak Allah. Sesuai dengan kebijakan, kearifan dan janji-Nya. Bukankah kita tidak berdo’a saja ternyata lebih banyak diberi ? bukankah kita tidak berdo’a untuk meminta nafas, tapi buktinya kita selalu bernafas. Kita tidak berdo’a untuk minta makan, namun, bukankah sampai saat ini kita makan terus ? Banyak yang tidak kita minta, namun telah diberikan oleh Allah SWT. Bahkan yang tidak berdo’a juga sama-sama diberi oleh Allah rejeki. Yang meminta jodoh ada yang belum mendapatkan jodohnya.
Namun, yang tidak minta malah ada yang lebih dari satu. Yang tidak minta anak ada yang dikarunia banyak anak, namun ada yang telah meminta ternyata belum diberi oleh Allah. Jadi do’a itu tidak selalu identik dengan harus terwujud apa yang kita inginkan. Kita berdo’a itu, pertama, sebagai ibadah. Bagi kita, berdo’a akan dikabul atau tidak, Insya Allah tetap jadi amal soleh. Karena apa yang kita minta belum tentu yang terbaik dan belum tentu manfaat.
Maka, kita dikaruniakan bisa berdo’a saja itu sudah rejeki. Do’a itu merupakan dzikir. Do’a itu ibadah. Berdo’a itu tidak mudah, karena tidak semua orang bisa berdo’a. Maka, kalau gara-gara invasi Amerika ke Irak lalu bertambah do’a kita, tentu saja itu rejeki dari Allah sebagai kemenangan tersendiri. Lalu yang kedua, bentuk ijabahnya do’a itu tidak harus sesuai keinginan. Siapa tahu dengan invasi Amerika ini, kita sekarang semakin tahu siasat Amerika yang sebelumnya menyatakan sebagai pahlawan demokrasi dan ditiru di negeri kita. Ternyata demokrasi itu hanya tipuan. Amerika yang selalu memproklamirkan diri sebagai pembela hak azasi manusia, ternyata mereka juga pembunuh.
Sekarang Allah telah membukakan keadaan Amerika yang sebenarnya, yakni Amerika sebagai pelangggar hak Azasi manusia. Dulu kita begitu bangga, namun sekarang Alhamdulillah telah disingkapkan oleh Allah. Ini juga pertolongan Allah. Selama ini mungkin kita terhijab, namun sekarang kita jadi semakin tahu. Dulu kita merujuk ke Amerika, dan sekarang hati kita mulai dibukakan oleh Allah. Pertolongan itu tidak harus dalam bentuk kemenangan peperangan.
Memenangkan peperangan itu bukan berarti memenangkan kehidupan. Kehidupan ini hanya dimenangkan oleh orang yang kuat iman. Karena kalau kita beriman kepada Allah, saat diberi nikmat lalu kita bersyukur, Insya Allah jadi kebaikan. Diberikan musibah lalu kita bersabar, Insya Allah merupakan kebaikan pula. Tidak ada yang kerugian bagi orang beriman. Jika terluka, Insya Allah menggugurkan dosa. Jika terbunuh Insya Allah jadi syuhada.
Jadi, jangan ukur kesuksesan dengan atribut duniawi. Memenangkan peperangan, naik pangkat, berhasil dapat untung besar, semuanya tidak identik dengan ijabahnya do’a. Bahkan bisa jadi merupakan fitnah. Maka, yang harus kita lakukan kini adalah terus-menerus berdo’a. Karena do’a adalah dzikir kepada Allah.
Terserah Allah akan dikabulkan seperti apa, karena memang segalanya milik Dia. Yang penting kita terus istiqomah untuk memperbaiki diri. Terus istiqomah untuk berbuat yang lebih baik. Kemenangan itu adalah bagi orang yang bertaqwa “A'udzubillaahi minasyaithoonirrojiim, Inna Akramakum ‘indallaahi Atqaakum “ Orang yang menang adalah orang yang kokoh iman dan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah SWT. Waallahu A'lam.

Tuesday, September 28, 2004

Menjadi Pribadi Yang Bijak

Bismillaahirrahmanirrahiim,
Satu ciri ketakwaan seseorang kepada Allah adalah sifat bijak dalam kehidupannya. Yaa Ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min dzakariw wa untsa wa ja'alnaakum syu'uubaw waqabaa-ila li ta'aarafuu inna akramakum'indallahi atqaakum innallaha 'aliimun khabiir (Qs.Al-Hujuraat ayat 13). "Hai sekalian manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti". Ciri orang yang bertaqwa adalah dia merupakan orang yang bijaksana. Pertanyaan pertama ketika kita bercermin adalah apakan diri ini sudah bijak, jika jawabannya belum maka jadikanlah hal ini sebagai sebuah cita-cita.
Jika ada yang mengatakan rindu pemimpin yang bijak, jika kita mengatakan bahwa bangsa ini krisis keteladanan, maka jangan mencari teladan karena susah untuk ditemukan, untuk itu yang paling mudah adalah menjadikan kita sebagai tauladan paling tidak untuk keluarga, janganlah menuntut untuk mendapatkan presiden yang bijak karena akan susah untuk didapat, karena itu yang dapat kita lakukan adalah menuntut diri kita sendiri. Orang yang bijaksana itu merupakan suatu keindahan tersendiri, misalkan ketika menjadi seorang guru yang bijak biasanya sangat disukai oleh murid-muridnya. Seorang pemimpin yang bijak biasanya ia disegani oleh kawan maupun lawan, jika orang tua bijaksana maka akan dicintai oleh anak-anaknya.
Pada dasarnya kebijakan ini tidak susah untuk dimiliki. Ud'u illa sabiili rabbika bil hikmati wal mau 'izhatil hasanati, wa jaadilhum billatii hiya ahsanu inna rabbaka huwa'alamu bi man dhalla 'an sabilihii wa huwa a'lamu bil muhtadiin. Artinya: "Serulah kepada jalan (agama) Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya, sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk".
Sumber kearifan dan kebijaksanaan dapat datang dari :
  1. Sikap hidupnya yang siddiq yaitu orang yang sangat menyukai kebenaran, sekuat tenaga hidupnya berusaha berbuat benar dan selalu ingin membuat orang menjadi benar, semangat didalam hati akan cinta terhadap kebenaran, istiqomah dalam kebenaran dan ingin orang juga memiliki sikap yang benar maka hal tersebutlah yang membuat orang menjadi bijaksana.
  2. Sikap hidup yang amanah, rasa tanggung jawab karena hidup yang hanya sekali dan ingin mempertanggung jawabkan hidup ini baik sebagai anak, ayah, orang tua, anggota masyarakat, sikap amanah ini timbul dari dalam jiwa kita.
  3. Sikap hidup Fathonah, berwawasan luas, berilmu luas jadi begitu banyak pilihan sikap yang merupakan buah dari kecerdasan.
  4. Sikap hidup yang Tabligh adalah dapat menyampaikan sesuatu dengan baik kebenaran. Sehingga menyebabkan mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa merusak tatanan yang ada.

BAGAIMANA CARA MENJADI ORANG YANG BIJAK

  1. Tidak Emosional, hal itu berarti orang yang temperamental, mudah marah, meledak-ledak, gampang tersinggung, sulit menjadi bijaksana dan hanya dapat menjadi bijak dengan pertolongan Allah dan kegigihan usaha untuk berubah, jadi orang yang bijak adalah orang yang terampil mengendalikan diri. Berhati-hatilah jika kita termasuk orang yang mudah marah maka jika bertindak biasanya cenderung tergesa-gesa. Orang-orang yang emosional tersinggung sedikit akan sibuk membela diri dan membalas menyerang, ini tidak bijaksana karena yang dicari adalah kemenangan pribadi bukan kebenaran itu sendiri.
  2. Tidak egois, orang yang egois jelas tidak akan dapat menjadi bijak, karena bijak itu pada dasarnya ingin kemaslahatan bersama, orang yang egois biasanya hanya menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri. Rasulullah selalu hidup dalam pengorbanan, begitu pula Indonesia dapat merdeka oleh orang-orang yang berjuang penuh pengorbanan. Orang yang bijak adalah orang yang mau berkorban untuk orang lain bukan mengorbankan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri.
  3. Suka cinta dan rindu pada nasihat, akan sangat bodoh jika kita masuk hutan tanpa bertanya kepada orang yang tahu mengenai hutan. Jika kita di beri nasihat seharusnya kita berterima kasih. Jika kita tersinggung karena di sebut bodoh maka seharusnya kita tersinggung jika disebut pintar karena itu tidak benar. Jika kita alergi terhadap kritik, saran, nasehat atau koreksi maka kita tidak akan bisa menjadi orang yang bijak. Jika seorang pemimpin alergi terhadap saran atau nasehat, bahkan memusuhi orang yang mengkritik, maka dia tidak akan pernah bisa memimpin dengan baik.
  4. Memiliki kasih sayang terhadap sesama, Rasa sayang yang ada diharapkan tetap berpijak pada rambu-rambu yang ada seperti ketegasan. Diriwayatkan bahwa orang yang dinasehati oleh Rasulullah secara bijak berbalik menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Orang-orang yang bijak akan sayang terhadap sesama. Berbeda dengan orang-orang yang hidup penuh dengan kebencian, dimana kepuasan bathinnya adalah menghancurkan orang lain. Pemimpin sebaiknya memiliki kasih sayang yang berlimpah tidak hanya pada waktu kampanye saja. Kasih sayangnya juga tidak hanya untuk satu pihak atau kelompok melainkan merata untuk semua golongan.
  5. Selalu berupaya membangun, Orang yang bijak tidak hanyut oleh masa lalu yang membuat lumpuh tetapi selalu menatap ke depan untuk memperbaiki segalanya. Orang yang bijak akan membangkitkan semangat orang yang lemah, menerangi sesuatu yang gelap. Jika melihat orang yang berdosa, maka ia akan bersemangat untuk mengajak orang tersebut untuk bertaubat. Orang yang bijak ingin membuat orang maju dan sangat tidak menyukai kehancuran dan kelumpuhan kecuali bagi kebathilan. Semangat orang yang bijak adalah semangat untuk maju tidak hanya untuk dirinya tetapi juga bagi orang lain disekitarnya.

Jadi yang dibutuhkan pada seorang pemimpin bijak adalah pribadi yang tidak emosional, tidak egois, penuh kasih sayang, cinta akan nasihat dan memiliki semangat terus menerus untuk membangun dirinya, ummat serta bangsa ini, dia tidak akan peduli walaupun dibalik kebangkitan yang ada dia mungkin akan tenggelam. Pemimpin yang bijak tidak peduli akan popularitas dan tidak peduli dengan adanya pujian manusia karena kuncinya adalah ketulusan dan tidak mengharapkan apapun dari yang telah di lakukan, adalah tidak akan bisa bijak jika kita mengharapkan sesuatu dari apa yang kita lakukan. Kita hanya akan menikmati sikap bijak jika kita bisa memberikan sesuatu dari rizki kita, bukannya mengharapkan sesuatu dari yang kita kerjakan.

Alhamdulillaahirobbil’alamin

Sumber: Buletin InfoDT Jakarta - No.13/Tahun IV/Agustus 2004 Oleh : Aa Gym